Gratifikasi Lahan Cengkareng Barat Mengalir Jauh

Nur Azizah    •    Rabu, 03 Aug 2016 11:42 WIB
pembelian lahan cengkareng
Gratifikasi Lahan Cengkareng Barat Mengalir Jauh
Lahan sengketa di Cengkareng Barat. Foto: MTVN/Wanda Indana

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencari Lurah Cengkareng Barat periode 2009-2014, Tarso. Ia diduga mengetahui cerita awal Toeti Noezar Serkarno membuat sertifikat lahan seluas 4,6 hektare di Rawa Bengkel, Cengkareng Barat.

Toeti melalui kuasanya Rudy Hartono Iskandar menjual lahan tersebut ke Dinas Perumahan dan Gedung DKI Jakarta pada 13 November tahun lalu. Setelah melalui proses tawar-menawar, Dinas Perumahan menyetujui membeli lahan Toeti seharga Rp14,1 juta per meter.

Kepala Bidang Pembangunan Perumahan dan Permukiman Provinsi DKI Jakarta Sukmana melunasi pembelian lahan total nilai Rp668 miliar. Sukmana bertugas sebagai pejabat pembuat komitmen yang bertransaksi dengan Rudy.

(Klik: Bareskrim Telah Periksa 20 Saksi Terkait Kasus Lahan Cengkareng Barat)

Hasil audit BPK diketahui bahwa lahan yang dibeli dari Rudy milik Dinas Kelautan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Provinsi DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menduga pemilik lahan di Rawa Bengkel ganda karena ulah Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Basuki meminta Inspektorat memeriksa lurah, camat, hingga pejabat Dinas Perumahan. Tarso termasuk yang diperiksa.

Kepada Metrotvnews.com, Tarso menampik terlibat dalam proses jual-beli lahan di Rawa Bengkel, karena dirinya sudah tak menjabat Lurah Cengkareng Barat sejak 31 Desember 2014. “100 persen saya tidak tahu sama sekali,” kata Tarso di Kantor Kelurahan Duri Kosambi, Jakarta Barat, Kamis 27 Juli 2016.  

Kendati begitu, Tarso mengakui dua kali mengurus surat pengantar pengajuan sertifikat milik Toeti dengan nomor girik 148. Surat  itu ia teken pada 2011 dan 2013.

“Pada 2011 penah ada surat atas nama Toeti. Lalu, 2013 muncul lagi dengan pemohon yang sama dan surat yang sama,” ujar mantan Lurah Pegadungan itu.

Pada saat membuat surat pengajuan sertifikat, Tarso mengakui telah melakukan kesalahan. Pria asal Kuningan, Jawa Barat, itu tidak melihat letter C di kantor kelurahan. Menurut Tarso, mengecek letter C tugas Kasie Pemerintahan Kelurahan Cengkareng Barat, Gozali.

“Saya pikir dia (Gozali) sudah mengecek. Kan, kalau saya tinggal paraf saja. Untuk meneliti dan mengkroscek itu tugas Gozali,” kata Tarso. Diduga ada pemalsuaan dokumen hingga beranak-pinak.

KPK menelusuri dugaan gartifikasi dari hasil jual-beli lahan di Cengkareng Barat. Gratifikasi diduga mengalir ke kantong-kantong pejabat di kelurahan, kecamatan, dan dinas.

Rudy diduga membagikan uang 'terima kasih' dalam jumlah beragam, mulai dari jutaan rupiah hingga miliaran rupiah. Sampai saat ini angka uang gratifikasi yang paling besar diterima mantan Kepala Bidang Pembangunan Perumahan dan Permukiman Dinas Perumahan DKI Sukmana.

(Klik: Sukmana Beberkan Pembelian Lahan Sengketa Cengkareng Barat)

Pada Januari 2016, Rudy menyodorkan uang sebesar Rp9,6 miliar ke Sukmana. Sukmana mengaku terkejut menerima uang dari Rudy.

"Dia bilang uang terima kasih operasional dinas dan dia langsung pergi," kata Sukmana kepada Metrotvnews.com, Jumat 1 Juli.

Mantan Lurah Cengkareng Barat Mohammad Hatta juga kecipratan duit hasil penjualan lahan sebesar Rp250 juta. Uang tersebut sebagai tanda terima kasih setelah dirinya meneken surat lahan milik Toeti Soekarno tidak dalam sengketa.

"Tetapi, kan saya tidak pernah ambil (uang). Itu sudah dikasih ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)," kata Hatta kepada Metrotvnews.com di Kalideres, Jakarta Barat, Selasa 19 Juli.

Hatta mengaku tak mengetahui asal muasal uang tersebut. Informasi yang diperoleh Metrotvnews.com,  Rudy Hartono menyerahkan uang ke Camat Cengkareng, Masud Effendi. Lalu, Masud membagikan ke beberapa pejabat kelurahan, termasuk Hatta.

Masud Effendi tak mau bicara banyak soal kabar tersebut. "Biarlah masalah ini ditangani oleh Badan Reserse Kriminal," jawab Masud.

Mantan Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Cengkareng Barat Gozali juga menerima gratifikasi. Paraf Gozali dihargai Rp30 juta hingga Rp35 juta.

(Klik: Kronologis Pembelian Lahan di Cengkareng Barat)

Gozali mengakui menerima uang, tetapi jumlahnya menurut dia tidak sampai puluhan juta. Uang ia terima setelah tiga kali mengurus surat pengajuan sertifikat tanah milik Toeti Soekarno.

"Demi Allah saya tidak terima segitu (Rp35 juta). Saya hanya dikasih Rp5 juta," tegas Gozali kepada Metrotvnews.com, Senin 25 Juli. Gozali mengaku menerima uang itu dari Tarso.

Informasi yang didapat Metrotvnews.com, Tarso mendapat jatah Rp2 miliar dari Rudy Hartono. Lagi-lagi Tarso membantah.

“Memang benar saya kasih Gozali Rp5 juta tapi itu tidak ada hubungannya dengan lahan Cengkareng Barat. Saya juga tidak menerima sepersen pun uang dari situ. Saya tidak tahu-menahu dengan pembelian lahan itu,” tegas Tarso.

Sekitar tiga bulan Tarso meninggalkan kediamannya di Jalan Ulan Raya, Duri  Kosambi, Jakarta Barat. Sementara waktu, ayah tiga anak ini tinggal di Perumahan Green Lake, di Jalan Kresek Raya.

“Saya ngontrak di sana karena rumah saya yang lama sedang direnovasi. Saya punya uang untuk ini bukan dari siapapun. Ini tabungan saya dan pinjam di Bank DKI,” katanya.

Kepala Sub Direktorat I Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri Kombes Adi Deriyan Jayamarta mengatakan, Tarso dan Masud menerima gratifikasi. Adi belum mau menyebut nominal.

"Kami mengetahui mereka menerima. Kami juga masih meyelidiki lagi agar hasilnya maksimal," kata Adi kepada Metrotvnews.com, Senin 1 Agustus.

Metrotvnews.com sudah berusaha meminta penjelasan Rudy Hartono melalui sambungan telepon dan pesan singkat, namun tidak ada jawaban. Rudy tidak pernah ada di beberapa tempat miliknya. Informasi yang diperoleh Metrotvnews.com, Rudy sering ke Australia menemui istri dan anaknya.


(TRK)

KPK Hormati Putusan Sela Praperadilan Novanto

KPK Hormati Putusan Sela Praperadilan Novanto

3 hours Ago

KPK akan tetap menghadapi proses persidangan selanjutnya yang masuk dalam tahap pembuktian.

BERITA LAINNYA