Senjata dan Amunisi yang Dibeli Polri Mematikan

Ilham wibowo    •    Selasa, 10 Oct 2017 14:50 WIB
senjata
Senjata dan Amunisi yang Dibeli Polri Mematikan
Kapuspen TNI Mayjen Wuryanto/MI/Bary Fathahilah

Metrotvnews.com, Jakarta: Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Wuryanto mengungkap keseraman senjata jenis Arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40x46 mm serta amunisinya. Senjata itu merupakan paket pembelian senjata oleh Kepolisian Republik Indonesian.

Sesuai katalog data pembelian, paket senjata tersebut disertai 5.932 amunisi jenis Ammunition Castior Round RLV-HEFJ. Senjata asal Bulgaria yang dikemas rapi dalam 71 koli itu tercium Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI dan tertahan di gudang UNEX Area Kargo Bandara Soetta.

"Dijelaskan bahwa itu adalah amunisi tajam," tegas Wuryanto di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Pusat, Selasa 10 Oktober 2017.

Menurut Wuryanto, amunisi yang diperuntukan bagi Korps Brimob Polri itu dianggap memiliki tingkat ancaman berbahaya. Sebab, kaliber senjata dan amunisi tersebut diketahui telah melebihi standar non-militer.

"Dia mempunyai radius mematikan 9 meter dan jarak capai 400 meter," tutur jenderal bintang dua ini.

Amunisi senjata juga memiliki keistimewaan yang mematikan. Bahkan, kata Wuryanto, TNI sekali pun belum pernah menggunakan amunisi serupa.

"Keistimewaan amunisi ini setelah meledak pertama kemudian meledak yang kedua dan menimbulkan pecahan dari tubuh granat itu berupa logam-logam kecil yang melukai maupun mematikan. Kemudian granat ini bisa meledak sendiri tanpa benturan setelah 14-19 detik setelah lepas dari laras, jadi ini luar biasa," beber dia.

Amunisi tersebut saat ini telah dipindahkan ke gudang senjata milik TNI. Wuryanto menegaskan, pemindahan tersebut merupakan bentuk penitipan hingga keluar regulasi baru terkait penggunaan senjata dan amunisi standar militer oleh Polri.

Sebelumnya, Sebanyak 280 senjata jenis Arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kal 40x46 mm tertahan di gudang UNEX Area Kargo Bandara Soetta pada 29 September lalu. Senjata itu milik Korps Brimob Polri yang dibeli melalui pihak ketiga, yakni PT Mustika Duta Mas.

Korps Bhayangkara mengklaim impor senjata dan amunisi tersebut sudah sesuai prosedur. Namun, karena izin belum lengkap, senjata tak bisa segera didistribusikan.

Selain senjata, sebanyak 5.932 butir amunisi jenis Ammunition Castior Round RLV-HEFJ, juga tertahan. Amunisi itu dikemas dalam 71 boks. Sebanyak 70 boks diisi 84 butir dan 1 boks diisi 52 butir.


(OJE)