Kabar Kematian Bahrun Naim tak Hanya Sekali

Damar Iradat    •    Selasa, 05 Dec 2017 18:07 WIB
terorisme
Kabar Kematian Bahrun Naim tak Hanya Sekali
Ilustrasi aksi bom bunuh diri. (MTVN/Rakhmat Riyandi)

Jakarta: Kabar kematian salah satu petinggi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) Bahrun Naim diakui bukan kali pertama. Isu kematian Bahrun Naim sebelumnya juga beberapa kali berhembus.

"Kejadian ini bukan yang pertama. Pernah seperti ini juga," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto, di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 5 November 2017.

Setyo mengklaim, dari catatan kepolisian, isu kematian Bahrun Naim sudah tiga kali berhembus. Oleh karena itu, polisi masih berupaya mengonfirmasi kebenaran kabar tersebut.

Bahrum Naim pada pertengahan Maret 2017 juga pernah dikabarkan tewas dalam aksi bunuh diri. Namun, seperti saat ini, informasi tersebut juga masih simpang siur.

Oleh karena itu, lanjut Setyo, polisi masih akan terus mendalami kebenaran informasi tewasnya Bahrun Naim. Salah satunya lewat rekan kerja Divisi Hubungan Internasional dan Densus 88.

"Sampai sekarang belum mendapat informasi yang akurat dan valid. Kecuali kalau sudah mendapatkan saksi atau orang yang melihat dengan mata kepala sendiri, baru bisa disampaikan. Karena sejauh ini masih katanya-katanya," tegas Setyo.

Baca: Bahrum Naim Diduga Berupaya Memalsukan Kematiannya

Kepolisian tak mau gegabah mengonfirmasi kebenaran kabar kematian petinggi ISIS Bahrun Naim. Polri bakal hati-hati menyelidiki kabar kematian Bahrun Naim.

Sebelumnya Kapolri Jendral Tito Karnavian juga mengatakan, terkait hal ini, polisi bakal terus menelusuri kebenaran kabar tersebut. Karena, bukan tidak mungkin kabar tersebut hanya trik agar Bahrun Naim tak lagi dikejar oleh polisi.

"Bisa dia (Bahrun Naim) benar-benar meninggal, bisa tidak. Mungkin ini trik dia supaya tidak dikejar," tegas Tito.

Bahrun Naim dituding berada di balik beberapa insiden ledakan di Indonesia. Salah satunya teror bom di Jalan M.H. Thamrin, awal Januari 2016. Pria yang dicokok Densus 88 pada 2010 dan bebas 2 tahun setelahnya itu disebut sebagai otak di balik ledakan di pusat Jakarta itu.

Bahrun Naim juga dikenal piawai merekrut hingga merancang teror. Tenaga kerja Indonesia menjadi salah satu sasaran perekrutan kelompok Bahrun Naim. Pria ini juga pernah menjadi narapidana kepemilikan senjata api dan bahan peledak.

Baca: Polri Diminta Terus Petakan Jaringan Bahrun Naim


(LDS)