Irvanto Diduga Kombinasikan Modus Pencucian Uang untuk Bantu Novanto

Damar Iradat    •    Selasa, 09 Oct 2018 17:17 WIB
korupsi e-ktp
Irvanto Diduga Kombinasikan Modus Pencucian Uang untuk Bantu Novanto
Suasana sidang dengan terdakwa Irvanto Hendra Pambudi dan Made Oka Masagung - Medcom.id/Damar Iradat.

Jakarta: Mantan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein mengatakan, kasus korupsi proyek Kartu Tanda Penduduk elektronik diduga mengombinasikan modus-modus dalam tindak pidana pencucian uang (TPPU). Penggabungan modus itu disebut untuk menghindari penegak hukum. 

Hal itu diungkap Yunus saat dihadirkan sebagai saksi ahli dalam sidang lanjutan perkara korupsi KTP-el dengan terdakwa Irvanto Hendra Pambudi dan Made Oka Masagung. Yunus menyebut, dalam TPPU, ada sekitar lima modus pencucian uang.

Lima modus utama pencucian uang itu yakni; bersembunyi di perusahaan yang dimiliki sendiri oleh pelaku; menyalahgunakan perusahaan sah tanpa sepengetahuan pemilik perusahaan; menggunakan identitas palsu atau menggunakan nama orang lain. Kemudian, memanfaatkan kemudahan di negara lain atau safe heaven country; dan membeli atau menggunakan aset tanpa nama, semisal uang, emas batangan, lukisan.

"Dalam kasus ini ada kombinasi modus 1,2, 4, dan 5," tutur Yunus di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa, 9 Oktober 2018.

Yunus mengaku kelima modus pencucian uang itu sebetulnya sulit dilakukan. Apalagi, dengan mengombinasikan empat modus tersebut. 

"Dengan modus-modus seperti ini, patut diduga direncanakan. Transaksi-transaksi ini dibutuhkan mengetahui mozaik-mozaik, karena ini salah satu upaya memutus jejak, menyembunyikan," ujar Yunus.

(Baca juga: Istri Mendampingi Irvanto Serahkan Uang ke Anak Chairuman)

Irvanto dan Made Oka didakwa menjadi perantara suap untuk mantan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto. Pada awal 2012, Irvanto selaku keponakan Novanto menemui Marketing Manajer Inti Valuta Mas Sukses Money Changer Riswan alias Iwan Barala.

Irvanto meminta bantuan mentransfer dana dari luar negeri ke Indonesia untuk diserahkan kepada Novanto. Kepada Iwan, Irvanto mengaku, memiliki sejumlah uang di Mauritius dan ingin mengambilnya secara tunai di Jakarta tanpa mentransfer uang ke Indonesia. 

Iwan lalu berkoordinasi dengan pengelolaan money changer lainnya, Yuli Hira, untuk menyediakan orang atau perusahaan yang mempunyai transaksi dan dapat menjadi tempat pengiriman uang dari Direktur Biomorf Mauritius, Johannes Marliem.

Kemudian, pada rentang 19 Januari 2012 sampai 19 Februari 2012, Irvanto beberapa kali menerima uang dari Johannes Marliem hingga mencapai angka US$3,5 juta. Uang untuk Novanto juga diberikan melalui Made Oka.

Kolega Novanto di Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) itu disebut menyalahgunakan kedudukannya sebagai pemilik OEM Investment Pte.Ltd dengan menerima fee untuk Novanto US$1,8 juta.

Atas perbuatannya, Irvanto dan Made Oka didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP.

(Baca juga: Andi Narogong: Novanto Suruh Irvanto Bagikan Duit ke DPR)






(REN)