Vonis Kasus Vaksin Palsu tidak Menjerakan

   •    Selasa, 21 Mar 2017 07:08 WIB
pemalsuan vaksin
Vonis Kasus Vaksin Palsu tidak Menjerakan
Hidayat dan Rita di persidangan. Antara Foto//Risky Andrianto

Metrotvnews.com, Jakarta: Jaksa kasus vaksin palsu dengan terdakwa Hidayat Taufiqurrahman dan Rita Agustina harus mengupayakan banding atas putusan hakim yang ringan. Vonis terhadap Hidayat dan Rita dinilai terlalu rendah.

Hal itu dikemukakan Koordinator Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi kepada Media Indonesia dalam menanggapi putusan hakim Pengadilan Negeri Bekasi yang memvonis Hidayat dan Rita masing-masing 9 tahun dan 8 tahun.

"Putusan ini tidak membawa efek jera. Jaksa harus naik banding," kata Tulus, Senin 20 Maret 2017.

Direktur Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia Marius Widjajarta juga sangat menyayangkan rendahnya vonis hakim tersebut.

"Padahal, ini kan pertama kali ada kasus vaksin (palsu). Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia," ujar Marius.

Marius mendesak penegak hukum mengkaji kembali vonis tersebut. "Kita tidak tahu zat apa yang dimasukkan mereka. Higienis atau tidaknya zat itu sangat berbahaya bagi kesehatan anak."

Dengan raut wajah seolah menyesal, Hidayat dan Rita keluar dari ruang sidang di Pengadilan Negeri Bekasi. Pasangan suami istri tersebut menjadi terdakwa kasus pembuatan vaksin palsu yang mencuat di masyarakat pada pertengahan Juni 2016.

"Tidak ada korban dan tidak ada temuan. Isinya sama vaksin, enggak ada efek. Saya diajarin, bukan pelaku utama. Walaupun rumah besar, bukan dari hasil situ," ujar Hidayat, seusai sidang putusan yang dibacakan majelis hakim.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Marper Pandiangan dengan anggota Oloan Silalahi dan Bahuri memutuskan terdakwa Hidayat dan Rita terbukti bersalah melakukan tindak pidana sengaja membuat sediaan farmasi tanpa ditunjang cara pembuatan obat yang benar.

Oleh karena itu, sesuai Pasal 197 UU Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009, Hidayat dijatuhi hukuman 9 tahun penjara dan Rita Agustina dijatuhi selama 8 tahun penjara. Selain dijatuhi hukuman penjara, mereka didenda Rp300 juta subsider satu bulan kurungan.

Putusan tersebut lebih ringan daripada tuntutan jaksa yang menuntut terdakwa 12 tahun penjara, denda Rp1 miliar, dan subsider 6 tahun kurungan. Namun, majelis hakim menimbang terdakwa belum pernah tersandung kasus, selama persidangan mereka menyesali perbuatan, dan memiliki dua anak.


(TRK)