Pencegahan PCC Tangggung Jawab Bersama

Damar Iradat    •    Selasa, 05 Dec 2017 12:43 WIB
pil maut pcc
Pencegahan PCC Tangggung Jawab Bersama
Petugas menunjukkan sejumlah barang bukti saat pengungkapan kasus pabrik pil terlarang jenis paracetamol caffein carisoprodol (PCC) di Semarang, Jawa Tengah. Foto: Antara/Aji Styawan.

Jakarta: Peredaran pil paracetamol, caffein, dan carisoprodol (PCC) wajib diantisipasi. Perlu koordinasi semua lembaga terkait dan peran seluruh elemen masyarakat untuk mencegah meluasnya peredaran pil tersebut.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai salah satu lembaga yang berhubungan langsung dengan obat-obatan mengaku sulit memantau peredaran pil PCC. Musababnya, pil tersebut dibuat dan diedarkan secara ilegal.

"BPOM dalam hal ini berupaya agar produk-produk ini tidak diedarkan di apotek, rumah sakit," kata Direktur Bidang Pengawasan Distribusi Obat BPOM Hans G. Kakerissa kepada Medcom.id, Selasa, 5 Desember 2017.

Menurut dia, sesuai fungsi dan kewenangannya, BPOM mengawasi industri, produk, dan distribusi yang legal dan terdaftar. Sementara itu, pil PCC yang belakangan marak diakui sulit diawasi karena tidak terdaftar.

Pengawasan peredaran pil PCC tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada BPOM maupun Kementerian Kesehatan dan kepolisian. Masyarakat, kata dia, juga diminta mewaspadai peredaran PCC.

"Kita semua, baik masyarakat, aparat, pemerintah melakukan pengawasan terhadap lingkungan keluarga agar jangan sampai terkena ke anak-anak," ungkap dia.

Kendati demikian, Hans menegaskan koordinasi antarlembaga terkait juga sudah berjalan. BPOM dan kepolisian juga sudah memiliki perjanjian dalam pengawasan industri obat-obatan ilegal.

"Untuk sarana ilegal, industri-industri rumahan, maupun yang lainnya, BPOM di seluruh provinsi bekerja sama dengan direktorat narkoba kepolisian daerah setempat untuk sama-sama mengawasi hal-hal seperti itu," tutur Hans.

Baca: Pabrik PCC di Solo Gunakan Teknologi Luar Negeri

Sebelumnya, peredaran pil PCC kembali terungkap setelah Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polda Jawa Tengah menggerebek sejumlah pabrik PCC di Jawa Tengah, Minggu, 3 Desember 2017. Lokasi pabrik ada di Semarang, Solo, dan Sukoharjo.

Pabrik PCC di Kota Solo telah memproduksi 50 juta pil sejak pertama beroperasi pada Januari 2017. Satu tablet PCC dijual seharga Rp4 ribu hingga Rp5 ribu. Peredaran pil PCC menjangkau banyak daerah, seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Sulawesi, NTB, dan DKI Jakarta.

Pada pertengahan September 2017, puluhan anak berusia 15-22 tahun dilarikan ke sejumlah rumah sakit di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Mereka mengalami gejala gangguan mental setelah mengonsumsi obat-obatan, seperti somadril, tramadol, dan PCC. Ketiga jenis obat itu dicampur dan diminum secara bersamaan menggunakan minuman keras oplosan. 




(OGI)

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

11 hours Ago

Pengacara terdakwa kasus korupsi KTP-el Setya Novanto, Maqdir Ismail menuding dakwaan milik KPK…

BERITA LAINNYA