Sandiaga Ogah Tanggapi Laporan Pemalsuan Dokumen PT Japirex

Nur Azizah    •    Kamis, 11 Jan 2018 02:55 WIB
kasus penggelapan
Sandiaga Ogah Tanggapi Laporan Pemalsuan Dokumen PT Japirex
Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. Foto: MTVN/Faisal.

Jakarta: Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menolak menanggapi kasus hukum yang menyeret namanya. Kali ini, Sandi kembali dilaporkan ke Polda Metro Jaya terkait dugaan pemalsuan keterangan dalam akta otentik. 

"Saya enggak mau menanggapi tentang kasus hukum. Dari dulu saya enggak menanggapi," kata Sandi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu 10 Januari 2017.

Sandi menyebut, laporan terhadap dirinya seolah menjadi siklus saat tengah memulai tahapan baru. "Ini seakan menjadi siklus. Begitu saya baru memulai sesuatu yang, tapi ya sudah tidak usah diteruskan," ujar dia.

Siang tadi, Fransiska Kumalawati melaporkan Sandi terkait pemalsuan sertifikat nomor 1020 milik PT Japirex. Fransiska mengungkapkan Sandiaga bersama Andreas Tjahyadi pada 2012 yang merupakan pemilik saham di PT Japirex telah menjual sebidang tanah dengan luas 3.000 meter persegi yang terletak di Jalan Raya Curug, Tangerang, Banten.

Padahal, kata Fransiska, tidak pernah ada perjanjian antara pihaknya dengan Sandiaga dan Andreas mengenai penjualan tanah tersebut. Dia menilai Sandiaga sudah melanggar aturan. 

"Surat pelepasan hak isi nya jelas, bahwa tanah tersebut tetap beratasnamakan pihak pertama. Jadi hanya untuk dipergunakan bukan untuk dibalik nama maupun diperjualbelikan. Mana RUPS PT untuk pembelian asset? Kan juga tidak ada," jelas Fransiska.

Baca: Sandiaga Dilaporkan Terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen PT Japirex

Laporan Fransika tertuang dalam laporan polisi nomor LP/109/I/2018/PMJ/Dit.Reskrimum, Senin, 8 Januari. Sebelumnya Djoni Hidayat melalui kuasa Fransiska Kumalawati  Susilo melaporkan kasus dugaan penggelapan tanah tersebut ke Polda Metro Jaya sejak Maret 2017.

Sandi dengan rekan bisnisnya Andreas Tjahyadi pernah menjadi direksi di PT Japirex, yang kemudian melakukan penjualan properti berupa sebidang tanah. Cerita ini bermula ketika manajemen Japirex, Sandiaga dan Andreas berencana menjual aset Japirex seluas sekitar 6.000 meter persegi di jalan Curug Raya, Tangerang.

Di belakang tanah tersebut terdapat 3.000 meter persegi milik Djoni Hidayat. Berdasarkan keterangan Djoni, tanah 3.000 meter tersebut merupakan tanah titipan dari almarhumah Happy Soeryadjaya. Di mana, almarhumah merupakan istri pertama Edward Soeryadjaya.

Dalam daftar perusahaan PT Japirex, disebutkan bahwa hanya ada dua orang, yaitu Sandi dan Andreas sebagai pemilik perusahaan. Berkas perusahaan tersebut adalah akta perusahaan ketika PT Japirex yang dilikuidasi pada 2009. Di mana ketua tim likuidasi adalah Andreas Tjahyadi.

Sebelumnya Fransiska juga melaporkan Sandiaga dan Andreas atas kasus dugaan penipuan, penggelapan, dan pencucian uang ke Polda Metro Jaya. Laporan polisi teregistrasi dengan nomor: LP/1151/III/2017/PMJ/Dit.Reskrimum pada 8 Maret 2017.

Akibat tanahnya digelapkan oleh pemegang saham PT Japirex, pelapor merasa sangat dirugikan. Pelapor juga mengaku tidak mempunyai motif apa pun dalam melaporkan masalah ini. 

"Saya hanya ingin menuntut keadilan atas hak dari almarhumah," kata Fransiska.


(JMS)