BIN: Kasus Munir Diserahkan ke Kejaksaan Agung

Arif Hulwan    •    Rabu, 19 Oct 2016 13:35 WIB
kasus munir
BIN: Kasus Munir Diserahkan ke Kejaksaan Agung
Ilustrasi. Foto: MI/Galih Pradipta

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Intelijen Negara (BIN) tidak akan ikut campur dalam kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib. Kasus itu sepenuhnya ditangani Kejaksaan Agung.
 
Kepala BIN Budi Gunawan mengatakan, pihaknya mempersilakan Kejaksaan Agung bertindak sesuai instruksi Presiden Joko Widodo.
 
"Presiden sudah membuat statement, masalah dokumen diserahkan kepada Jaksa Agung. Silakan dikonfirmasi ke Kejaksaan Agung," kata Budi Gunawan di gedung DPR, Jakarta, Rabu (19/10/2016).
 
Budi tidak bisa memastikan ada atau tidaknya dokumen tersebut di lembaga yang dipimpinnya. Ia juga engan berkomentar kemungkinan adanya koordinasi dengan Kejaksaan untuk menyelesaikan kasus yang sudah menahun itu. "Silakan konfirmasi (ke Kejaksaan)," ujarnya.
 
BIN dikaitkan dengan kasus ini setelah salah satu agennya, Pollycarpus Budihari Proyanto divonis bersalah dalam kasus pembunuhan Munir. Bekas Deputi V BIN Penggalangan Muchdi Purwopranjono pun sempat diseret ke pengadilan, namun keterlibatannya tak terbukti.
 
Komisi Informasi Pusat, 10 Oktober 2016, memenangkan gugatan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) terhadap Kementerian Sekretaris Negara perihal temuan Tim Pencarian Fakta (TPF) atas kematian Munir.


 
KIP memutuskan pemerintah harus membuka hasil temuan TPF tersebut sebagai bentuk kepatuhan terhadap Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik.
 
Munir Said Thalib maninggal pada 7 September 2004 di pesawat Garuda GA-974 kursi 40 G saat terbang menuju Amsterdam, Belanda, untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Utrecht. Ia dibunuh dengan racun arsenik yang ditaruh ke makanannya.
 
Pada tanggal 12 November 2004 dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah autopsi. Hal ini juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia.
 
Pada 20 Desember 2005, pilot Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus yang sedang cuti menaruh arsenik di makanan Munir.
 
Pada 19 Juni 2008, Mayjen (Purn) Muchdi Pr ditangkap dengan dugaan menjadi otak pembunuhan Munir. Beragam bukti kuat dan kesaksian mengarah padanya. Namun, pada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas. Vonis kontroversial ini membuat 3 hakim yang mengadili diperiksa. Hingga kini belum diketahui siapa yang menjadi otak utama pembunuh aktivis HAM itu.




(FZN)