Pengacara Irvanto Nilai Tuntutan Jaksa Berlebihan

Damar Iradat    •    Selasa, 06 Nov 2018 16:15 WIB
korupsi e-ktp
Pengacara Irvanto Nilai Tuntutan Jaksa Berlebihan
Keponakan Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo--MI/Rommy Pujianto

Jakarta: Pengacara Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, Soesilo Aribowo menilai tuntutan jaksa berlebihan. Jaksa sebelumnya menuntut agar Irvanto dihukum 12 tahun penjara, dalam perkara korupsi KTP elektronik.

Menurut Soesilo, selain berat, tuntutan terhadap Irvanto juga tak tepat. Sebab, kliennya bukan sebagai pelaku utama, bahkan hanya sebagai perantara suap kepada pamannya, Setya Novanto yang juga terpidana dalam kasus ini.

"Saya kira bukan hanya berat, tetapi sudah super berat dan menurut saya tidak tepatlah, karena ini kan peran Pak Irvan ini kan kalau kita lihat tadi sama-sama, adalah sebagai perantara," kata Soesilo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa, 6 November 2018.

Menurut Soesilo, beberapa pihak lain yang juga sudah dipidana bahkan hukumannya lebih ringan dari Irvanto. Bahkan, mereka ikut menerima uang hasil proyek KTP-el tersebut.

Oleh sebab itu, Soesilo menilai tuntutan yang diajukan jaksa sangat tak berkeadilan. Pihaknya akan berupaya meringankan vonis hakim lewat pembacaan nota pembelaan atau pleidoi yang akan digelar pada 21 November 2018 mendatang.

"Kita juga akan jelaskan beberapa perbandingan putusan terdahulu, bahkan yang menguntungkan saja pun kita belum tahun. Memang ini belum putusan, kita berharap majelis hakim melihat ini semua sebagai perbandingan," tandasnya.

Baca: Irvanto Bantah Bagi-bagi Uang KTP-el Pakai Kode Miras

Sebelumnya, Irvanto bersama pemilik PT Delta Energy, Made Oka dinilai telah terbukti memperkaya Setya Novanto sebesar US$7,3 juta. Mereka berdua juga menggunakan modus melalui money changer agar transfer dengan jumlah besar dari luar negeri itu tidak terendus penegak hukum di Indonesia.

Irvanto diduga menerima uang dari Direktur Biomorf Mauritius, Johannes Marliem sebesar US$3,5 juta. Uang itu ditranasfer secara bertahap ke sejumlah rekening di luar negeri milik orang lain.

Sementara itu, Made Oka diduga menerima uang sebesar US$1,8 juta dari Johannes Marliem. Ia juga menerima uang untuk Novanto dari Direktur Utama PT Quadra Solutions Anang Sugiana Sudihardjo sejumlah US$2 juta lewat modus penjualan saham.

Atas perbuatannya, jaksa menuntut agar keduanya divonis bersalah oleh majelis hakim. Jaksa juga menuntut agar Irvanto dan Made Oka dihukum 12 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsider enam bulan kurungan.


(YDH)