Penyelesaian Kasus Pelanggaran HAM

Kejaksaan Tunggu Komnas HAM Penuhi Bukti

Lukman Diah Sari    •    Rabu, 09 Jan 2019 19:07 WIB
pelanggaran ham
Kejaksaan Tunggu Komnas HAM Penuhi Bukti
Jaksa Agung M Prasetyo. Foto: MI/Bary Fathahilah

Jakarta: Jaksa Agung M Prasetyo meminta Komnas HAM memenuhi bukti-bukti yang diminta pihaknya terkait kasus pelanggaran HAM berat masa lalu yang belum selesai hingga kini. Bukti-bukti tersebut dapat melanjutkan perkara ke pengadilan. 

Prasetyo mengungkap, sejak 2007 ada tujuh kasus pelanggagan HAM berat masa lalu yang diselidiki Komnas HAM. Namun, tak satupun yang bisa naik penyidikan karena belum cukup bukti.

"Terakhir Komnas HAM beri berkas tapi tanpa sedikit pun memenuhi petunjuk jaksa," ucap Prasetyo di Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu, 9 Januari 2019.

Prasetyo menerangkan, baiknya kasus pelanggaran HAM dilihat realistis. Pasalnya sudah berganti presiden dan berganti-ganti ketua Komnas HAM, dan jaksa agung hasilnya tetap sama dan tanpa penyelesaian. Sehingga, Prasetyo menyarankan agar kasus-kasus tersebut diselesaikan dengan cara non yudisial.

"Oleh karena itu saya menyatakan pelanggaran-pelanggaran berat masa lalu lebih tepat diselesaikan dengan pendekatan non yudisial," jelasnya.

Baca: Delapan Rekomendasi Komnas HAM untuk Pemerintah

Namun, Prasetyo menyadari masih ada pro dan kontra untuk mengabulkan penyelesain secara non yudisial tersebut. Lantaran, masih ada beberapa pihak yang ingin kasus pelanggaran HAM berat tetap diselesaikan di pengadilan.

"Untuk bisa ke persidangan harus cukup buktinya. Seperti kasus 65/66, Komnas HAM bisa enggak temukan tersangkanya. Ini saya sampaikan terbuka ya, bahwa  pendekatan non yudisial dibenarkan undang-undang no 26 tahun 2000," jelasnya.

Prasetyo menegaskan, untuk bisa menyelesaikan pelanggaran HAM berat harus memiliki semangat menyelesaikan kasus. Bila tidak, akan menjadi kasus warisan.

Baca: Rekonsiliasi Pelanggaran HAM Berat Tak Mudah

"Kita jadi tersandera oleh beban dosa sejarah masa lalu. Itu yang terjadi," tandasnya. 




(DMR)