Kabareskrim Ingin Penanganan Korupsi Pertimbangan Efek Jera

Ilham wibowo    •    Senin, 12 Mar 2018 16:57 WIB
kasus korupsi
Kabareskrim Ingin Penanganan Korupsi Pertimbangan Efek Jera
Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto. Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo.

Jakarta: Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Ari Dono Sukmanto meminta penanganan kasus korupsi mempertimbangkan efek jera yang dihasilkan. Keterbatasan personel penyidik di setiap lembaga penegak hukum dinilai bisa disiasati dengan memilah kasus. 

"Mana yang punya deterrent (efek jera) lebih besar kasusnya yang kita pukul sehingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kejaksaan dengan penyidik Polri akan memilih, bukan hanya kasus korupsi recehan, tapi kasus korupsi yang punya dampak besar," kata Ari di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Senin, 12 Maret 2018. 

Penanganan korupsi dinilai tak akan selesai jika hanya dilakukan dengan memberantas seluruh laporan. Sementara itu, penindakan secara tepat bisa membuat seseorang mengurungkan niat korupsi karena takut ganjaran yang bakal diterima. 

"Saya dengar KPK jumlah laporan begitu banyak, yang bisa ditangani terbatas disesuaikan dengan jumlah personel yang akan menangani," ungkapnya. 

Baca: Peserta Pilkada Tersangka Korupsi Diumumkan Pekan Ini

Kualitas hasil penindakan dinilai bakal berbanding lurus dengan penurunan jumlah kasus yang sama. Ari menyakini kasus korupsi di Tanah Air bakal reda bila seluruh pemangku kepentingan memiliki komitmen kuat. 
 
"Jadi bukan hanya asal korupsi, tapi korupsi yang betul-betul punya dampak karena aspek pencegahan preventif itu yang kita coba utamakan," tutur dia. 

Pemilahan kasus juga bakal berdampak pada efektivitas anggaran negara yang dialokasikan kepada penyidik. Meski belum diatur dalam undang-undang, Ari lebih tertarik memberikan sanksi sosial bagi pelaku untuk kasus korupsi ukuran kecil. 

"Kalau ada sanksi sosial publik tahu sehingga betul-betul keluarga pun ikut mencegah korupsi, malu kita nanti," ucap Ari.





(OGI)