KPK tak Khawatirkan Rencana Kunjungan Pansus ke Safe House

Damar Iradat    •    Jumat, 11 Aug 2017 10:06 WIB
angket kpk
KPK tak Khawatirkan Rencana Kunjungan Pansus ke Safe House
Juru bicara KPK Febri Diansyah/ANT/Sigid Kurniawan

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak mengkhawatirkan rencana kunjungan Panitia Khusus Hak Angket ke safe house. Pansus mempertanyakan dasar KPK mendirikan safe house.

"Safe house itu sudah jelas dan kuat dasar hukumnya," tegas juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jumat 11 Agustus 2017.

Setidaknya, ada dua Undang-undang yang mengatur pendirian safe house. Di antaranya, Pasal 15 huruf a UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK yang menyatakan: KPK berkewajiban memberikan perlindungan terhadap saksi atau pelapor yang menyampaikan laporan ataupun memberikan keterangan mengenai terjadinya tindak pidana korupsi.

Dalam penjelasan pasal itu, yang dimaksud dengan memberikan perlindungan meliputi pemberian jaminan keamanan dengan meminta bantuan kepolisian atau penggantian identitas pelapor atau “melakukan evakuasi” termasuk perlindungan hukum.

Aturan lain tercantum dalam Pasal 5 ayat (1) huruf k UU No.31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban (UU PSK) yang menyebut saksi dan korban berhak mendapatkan tempat kediaman sementara. Dalam ketentuan Pasal 1 angka 8 UU PSK, dinyatakan bahwa perlindungan adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban yang wajib dilaksanakan oleh LPSK atau lembaga lainnya sesuai dengan ketentuan undang-undang ini.

KPK sebagai lembaga yang memiliki kewenangan memberikan perlindungan kepada saksi wajib memberikan tempat kediaman sementara kepada saksi yang dilindungi.
"Yang aneh jika ada yang mengatakan safe house tidak ada dasar hukum," kata Febri.

Febri mengaku tak mengerti mengapa Pansus Hak Angket KPK menyebut safe house sebagai 'rumah sekap'. Apalagi, hanya berdasarkan keterangan seorang saksi, dalam hal ini, pengakuan Niko Panji Tirtayasa alias Miko saat memenuhi panggilan Pansus di DPR.

Padahal, terang dia, KPK sudah menghentikan perlindungan terhadap Miko lantaran tidak konsisten dan tidak koperatif saat menjadi saksi. Sebelumnya, Febri mengatakan, Miko sempat meminta perlindungan dari KPK karena mendapatkan tekanan dan intimidasi.

Bahkan, selama berada di safe house, Miko juga mendapatkan penggantian biaya hidup terhadap istri dan keluarganya. Lembaga pimpinan Agus Rahardjo itu pun sangsi dengan sikap Miko saat dihadirkan dalam rapat dengar pendapat dengan Pansus Hak Angket, beberapa waktu lalu.

"Kita tidak tahu motivasinya apa, atau jika ada yang menyuruh dia digerakkan siapa?" ucap dia.

Namun, komisi antirasuah bakal menantikan hasil kunjungan Pansus Hak Angket ke safe house. "Karena sepertinya ada pihak-pihak yang sangat bersemangat ke rumah tersebut, meskipun DPR sebenarnya sedang reses saat ini. Apa motivasinya kami tidak tahu," tegas Febri.

Bagi KPK, hal-hal tersebut tidak terlau penting. KPK akan terus bekerja menangani kasus-kasus besar seperti KTP-el dan BLBI, termasuk kasus suap trkait pengadaan Al-Quran serta PUPR yang diduga juga mengalir pada banyak pihak seperti anggota DPR dan swasta.

"Semua tindakan yang dilakukan KPK tentu berdasarkan aturan hukum dan dapat dipertanggungjawabkan," tandasnya.

Rencana kunjungan itu berawal dari pengakuan Niko Panji Tirtayasa alias Miko saat memenuhi panggilan Pansus di DPR. Miko mengaku disekap KPK di dua rumah terpisah, yakni di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara dan Depok, Jawa Barat. Pansus tak lantas percaya terhadap pengakuan Miko.

Pansus Angket KPK mempertanyakan dasar KPK membuat safe house untuk Miko. Wakil Ketua Pansus Hak Angket KPK Taufiqulhadi menyebut, KPK tidak memiliki dasar apapun untuk mendirikan safe house. Pasalnya, kewenangan pendirian itu hanya ada di Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).


(OJE)

KPK Bakal Pelajari Pernyataan Miryam

KPK Bakal Pelajari Pernyataan Miryam

1 day Ago

Miryam S. Haryani yang menyebut ada pertemuan anggota Komisi III DPR dengan pejabat KPK setingk…

BERITA LAINNYA