Nasib Bahrun Naim Berpengaruh pada Terorisme di Indonesia

M Sholahadhin Azhar    •    Selasa, 05 Dec 2017 12:31 WIB
terorisme
Nasib Bahrun Naim Berpengaruh pada Terorisme di Indonesia
Ilustrasi: Terorisme. Foto: MTVN/M Rizal.

Jakarta: Nasib pentolan ISIS asal Solo, Bahrun Naim, dianggap berpengaruh kepada aksi teror di Tanah Air. Dia dikabarkan tewas dalam sebuah pertempuran di Suriah.

Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menilai sosok Bahrun penting sebagai puncak komando jaringan ISIS di Indonesia. Kepergiannya akan berpengaruh pada sel ISIS di Tanah Air. 

"Jika benar BN (Bahrun Naim) membangun jaringan sendiri di Indonesia, akan berpengaruh sangat signifikan setelah kematiannya. Logikanya dalam konteks keamanan maka tingkat ancaman berkurang drastis," kata Harits kepada Medcom.id, Selasa, 5 Desember 2017.

Menurut dia, kabar kematian Bahrun harus dipastikan kembali oleh pihak berwenang. Pasalnya, hingga saat ini kabar tersebut masih bersifat spekulasi, belum bisa dikonfirmasi. 

"Fakta riil sejak dua atau tiga bulan yang lalu para pendatang dari Indonesia di Suriah yang bergabung dengan ISIS mulai lose contact dengan kawan-kawan mereka yang di Indonesia," imbuh Harits.
 
Sementara itu, Mabes Polri masih mencari sumber dan memastikan kabar kematian Bahrun Naim. Polri berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri, Atase Kepolisan Turki, hingga Interpol untuk mencari kebenaran kabar tersebut.

"Sedang didalami. Kita juga berkoordinasi," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul.

Baca: Kabar Kematian Personel ISIS Asal Indonesia Kerap Invalid

Bahrun Naim muncul dalam beberapa insiden ledakan di Indonesia. Salah satunya, teror bom di Jalan MH Thamrin, awal Januari 2016. Ia disebut sebagai otak di balik ledakan di pusat Jakarta itu.

Dia dikenal piawai merekrut hingga merancang teror. Tenaga kerja Indonesia menjadi salah satu sasaran perekrutan kelompok Bahrun. 

Pria ini juga pernah menjadi narapidana kepemilikan senjata api dan bahan peledak. Ia dicokok Densus 88 Antiteror sekitar akhir 2010 dan bebas pada pertengahan 2012.




(OGI)