Terduga Teroris Asal Majalengka Sasar Gedung DPR & Stasiun TV

Whisnu Mardiansyah    •    Jumat, 25 Nov 2016 15:55 WIB
terorisme
Terduga Teroris Asal Majalengka Sasar Gedung DPR & Stasiun TV
Karo Penmas Divisi Humas Polri Kombes Rikwanto. FotoL MTVN/Githa Farahdina

Metrotvnews.com, Jakarta: Densus 88 Antiteror Mabes Polri mencokok terduga teroris di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Rabu (23/11/2016). Diduga, tersangka akan menyasar objek-objek vital negara untuk diledakkan.

Kabag Penum Mabes Polri Kombes Rikwanto menyampaikan, tersangka yang berafiliasi dengan kelompok Bahrun Naim itu berencana menyerang objek-objek vital. Di antaranya gedung DPR/MPR, Mabes Polri, Mako Brimob Kelapa Dua, kedutaan asing, stasiun televisi tertentu, tempat ibadah dan kafe.

"Ini warning bagi Densus agar barang-barang ini (bahan peledak) tidak beredar ke yang tidak berhak," kata Rikwanto saat jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (25/11/2016).

Rikwanto mengatakan, kelompok ini sudah menargetkan objek-objek yang menjadi simpul keramaian. Tujuannya agar aksi mereka menggema dan mendunia.

"Jadi ada efek, kita pernah sarikan dari penangkapan sebelumnya," ujar Rikwanto.

Sejumlah barang bukti diduga bahan dasar membuat bom disita polisi. Di antaranya asam nitrat, asam sulfat, air raksa dan pupuk urea.

Terduga teroris tersebut berinsial RPW. Ia ditangkap di Desa Girimulya, RT 003, RW005, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka. Diduga, RPW masuk dalam jaringan teror Bahrun Naim.

"Yang bersangkutan jaringan Bahrun Naim," kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar kepada wartawan, Rabu 23 November 2016.

Pria kelahiran tahun 1992 itu diketahui beralamat di Blok Situsari, RT 003 RW 005 Desa/Kelurahan Girimulya, Kecamatan Banjaran.

RPW terancam dikenakan Pasal UU Terorisme yaitu melakukan pemufakatan jahat dengan melawan hukum membuat, menyimpan dan menguasai bahan peledak dengan maksud akan digunakan untuk tindak pidana terorisme.

"Tersangka kita kenakan Pasal 15 junto Pasal 7 Perppu Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Terorisme ancaman 10 tahun sampai penjara seumur hidup," kata Rikwanto.


(MBM)