KPK Masih Butuh Eni Pertajam Keterlibatan Sofyan Basir

Juven Martua Sitompul    •    Rabu, 10 Oct 2018 17:36 WIB
Korupsi PLTU Riau-1
KPK Masih Butuh Eni Pertajam Keterlibatan Sofyan Basir
Juru Bicara KPK Febri Diansyah - Medcom.id/Rommy Pujianto.

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mempertajam bukti dugaan adanya keterlibatan Dirut PLN Sofyan Basir dalam kasus dugaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-I. Hal ini dibuktikan melalui perpanjangan masa penahanan tersangka Wakil Ketua Komisi VII Eni Maulani Saragih (EMS).

"KPK lakukan perpanjangan penahanan terhadap EMS selama 30 hari," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018.

Penahanan Eni diperpanjang sejak 12 Oktober hingga 10 November 2018. Perpanjangan penahanan dilakukan demi kepentingan penyidikan.

Nama Dirut PLN Sofyan Basir santer disebut sebagai pihak yang memuluskan Blackgold Natural Resources sebagai penggarap proyek tersebut. Eni bahkan telah berulangkali mengungkap peran Sofyan dalam pembahasan proyek bernilai USD900 juta tersebut.

Dalam dakwaan Kotjo, peran Sofyan dibeberkan jaksa penuntut secara runut. Sejumlah pertemuan Sofyan dengan bos Blackgold Natural Resources Limited Johannes Budisutrisno Kotjo termasuk Eni dan mantan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto dikupas lebih detail.

(Baca juga: Novanto Minta Proyek ke Dirut PLN)

Pada dakwaan itu diungkap juga Sofyan menawarkan kepada Novanto proyek PLTU Riau-I. Tawaran itu diberikan setelah Sofyan tak bisa memberikan jatah proyek PLTGU Jawa III karena sudah ada kandidat konsorsium penggarap.

Kotjo selaku kolega dekat memang meminta Novanto untuk dikenalkan dengan pihak PLN. Atas permintaan itu lah, Novanto lantas memerintahkan Eni agar mempertemukan Kotjo dengan Sofyan.

KPK baru menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-I. Ketiga tersangka itu yakni bos Blackgold Natural Recourses Limited Johannes Budisutrisno Kotjo (JBK), Wakil Ketua Komisi VII DPR RI EniMaulani Saragih (EMS), serta mantan Menteri Sosial Idrus Marham (IM).

Eni bersama dengan Idrus diduga menerima hadiah atau janji dari Kotjo. Eni diduga menerima uang sebesar Rp6,25 miliar dari Kotjo secara bertahap. Uang itu adalah jatah Eni untuk memuluskan perusahaan Kotjo sebagai penggarap proyek PLTU Riau-I.

Penyerahan uang kepada Eni tersebut dilakukan secara bertahap dengan rincian Rp4 miliar sekitar November-Desember 2017 dan Rp2,25 miliar pada Maret-Juni 2018‎. Idrus juga dijanjikan mendapatkan jatah yang sama jika berhasil meloloskan perusahaan Kotjo.

(Baca juga: Novanto Dijanjikan Rp91 M dari PLTU Riau-1)
 


(REN)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

1 week Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA