KPK Dalami Peran Sofyan Basir lewat Swasta

Juven Martua Sitompul    •    Kamis, 06 Dec 2018 11:23 WIB
Korupsi PLTU Riau-1
KPK Dalami Peran Sofyan Basir lewat Swasta
Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi Febri Diansyah. Foto: MI/Susanto.

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil satu pihak swasta Indri Savanti Purnama Sari. Dia akan diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-I.
 
"Yang akan bersangkutan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka IM (mantan Menteri Sosial Idrus Marham)," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Kamis, 6 November 2018.
 
Belum ada penjelasan detail kaitan Indri dalam kasus suap PLTU Riau-I. Namun, ini bukan kali pertama Indri jadi saksi kasus tersebut.
 
KPK masih terus mendalami kasus suap PLTU Riau-I. Salah satu yang masih ditelisik penyidik ialah dugaan keterlibatan pihak lain, khususnya Dirut PLN Sofyan Basir.
 
Nama Sofyan berulang kali muncul dalam penyidikan atau persidangan kasus suap PLTU Riau-I. Sofyan disebut sebagai pihak yang menawarkan proyek ini kepada Setya Novanto yang saat itu masih menjabat sebagai ketua umum Partai Golkar.
 
Sofyan juga disebut memiliki peran sentral dalam meloloskan Blackgold sebagai konsorsium penggarap proyek PLTU Riau-I. Bahkan, menurut pengakuan Eni, Sofyan sempat dijanjikan menerima fee paling banyak. Namun, akhirnya Sofyan mendapat fee sama dengan yang diterima Eni dan mantan menteri sosial Idrus Marham.

Baca: KPK Jerat Sofyan Basir Melalui Kesaksian Eni

KPK baru menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-I. Ketiga tersangka itu yakni bos Blackgold Natural Recourses Limited Johannes Budisutrisno Kotjo, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih, serta mantan Menteri Sosial Idrus Marham.
 
Eni bersama dengan Idrus diduga menerima hadiah atau janji dari Kotjo. Eni diduga menerima uang sebesar Rp6,25 miliar dari Kotjosecara bertahap. Uang itu adalah jatah Eni untuk memuluskan perusahaan Kotjo sebagai penggarap proyek PLTU Riau-I.
 
Penyerahan uang kepada Eni tersebut dilakukan secara bertahap dengan rincian Rp4 miliar sekitar November-Desember 2017 dan Rp2,25 miliar pada Maret-Juni 2018‎. Idrus juga dijanjikan mendapatkan jatah yang sama jika berhasil meloloskan perusahaan Kotjo.




(FZN)