KPK: Tingkat Korupsi Indonesia Masih Tinggi

Juven Martua Sitompul    •    Rabu, 05 Dec 2018 20:27 WIB
korupsi
KPK: Tingkat Korupsi Indonesia Masih Tinggi
Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif (kedua kanan) menjadi pembicara dalam diskusi publik "Festival Media Digital Pemerintah" di Jakarta, Rabu (5/12/2018). Foto: Antara/Galih Pradipta.

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengakui jika Indonesia masuk dalam daftar salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi. Namun, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia terus membaik setiap tahunnya, sekali pun berjalan lamban.

"Memang betul kita masih negara korup, tetapi kalau di Asean itu kita (membaik) sudah melebihi Thailand, kita sudah melebihi Filipina. Kita nomor tiga di ASEAN," kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarief di sela-sela peringatan Hari Antikorupsi Sedunia, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu, 15 November 2018.

Meski begitu, kata Laode, tolok ukur korupsi Indonesia tak bisa disandarkan dengan penyakit kanker. Menurutnya, parah apa tidaknya praktik korupsi sebuah negara diukur oleh IPK yang dikeluarkan oleh Transparency International (TI) setiap tahunnya.

"Ukuran korupsi itu beda dengan ukuran penyakit kanker, stadium satu, dua, tiga, empat. Ukuran korupsi itu harus dilihat dari corruption perception index kita," kata Laode.

Dari rilis Transparency International pada 2017, IPK Indonesia berada pada skor 37. Indonesia menempati urutan 96 dari 180 negara yang disurvei.

Selain Indonesia, ada Brasil, Kolombia, Panama, Peru, Thailand, serta Zambia di peringkat dan nilai yang sama. Oleh karena itu, Laode meminta semua pihak mengukur tingkat korupsi Indonesia dengan IPK, bukan dengan bahasa tak lazim.

"Lebih bagus kita pakai standar yang corruption perception index dibanding kita memakai standar yang enggak pernah dipakai untuk mengukur tingkat korupsi suatu negara," pungkasnya.


(HUS)