KPK Pakai Strategi Baru Jerat Sjamsul Nursalim

Juven Martua Sitompul    •    Selasa, 11 Dec 2018 21:40 WIB
kasus blbi
KPK Pakai Strategi Baru Jerat Sjamsul Nursalim
Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. Foto: MI/Rommy Pujianto

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan masih terus mengembangkan kasus dugaan korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Lembaga Antirasuah bahkan telah menyiapkan strategi baru untuk menjerat pihak lain, khususnya pemegang saham Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), Sjamsul Nursalim dan istrinya, Itjih Nursalim.

Nama pasangan suami istri itu disebut turut bersama-sama mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Syafruddin Arsyad Temenggung dalam kasus korupsi yang merugikan keuangan negara hingga Rp4,58 triliun tersebut.

"Lagi jalan, lagi jalan, yang berada di luar (negeri) ini lagi jalan, kita mau coba," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang usai membuka Rakornas Pendidikan Antikorupsi di Jakarta, Selasa, 11 Desember 2018.

Baca juga: KPK Menunggu Iktikad Baik Sjamsul Nursalim

Kendati begitu, Saut tak merinci strategi baru yang digunakan penyidik untuk menyeret Sjamsul dan istrinya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi BLBI. Dia hanya menyebut bagian kecil dari strategi itu yakni kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura.

‎"(Mutual Legal Assistance dengan Singapura) Saya pikir belum sampai sana, tapi sebenarnya kita mau coba bagaimana kita bisa bicara atau kepada pihak-pihak yang bisa kita panggil untuk diajak bicara," ujarnya.

Saut enggan berbicara lebih jauh soal teknis pemeriksaan Sjamsul Nursalim dan istrinya yang sedang berada di Singapura. Yang pasti, kata Saut, KPK bakal berkoordinasi dengan otoritas Singapura untuk dapat memeriksa Sjamsul Nursalim.

"Yang pasti kita koordinasi dengan otoritas setempat, kita akan ketemu dengan otoritas setempat, kita upayakan," ucap dia.

Baca juga: KPK Terus Buru Sjamsul dan Itjih Nursalim

Sjamsul dan Itjih memang berulang kali mangkir selama proses penyidikan Kepala BPPN Syafruddin Arsyad Temenggung. Bahkan, keduanya tak memenuhi panggilan penyidik pada proses pengembangan atau penyelidikan baru kasus korupsi BLBI setelah putusan Syafruddin.

Syafruddin divonis 13 tahun penjara dan denda Rp700 juta subsider 3 bulan kurungan. Syafruddin terbukti merugikan negara sekitar Rp4,58 triliun atas penerbitan SKL BLBI kepada Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI). Perbuatan Syafruddin telah memperkaya Sjamsul Nursalim, selaku pemegang saham pengendali BDNI tahun 2004.


(MBM)

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

2 weeks Ago

KPK memanggil Sekretaris Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Neg…

BERITA LAINNYA