Kapolri: Diskresi tak Mudah

Lukman Diah Sari    •    Jumat, 21 Apr 2017 16:46 WIB
polripolisi
Kapolri: Diskresi tak Mudah
Ilustrasi polisi. Foto: MTVN.

Metrotvnews.com, Jakarta: Diskresi atau kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi yang dihadapi, sejatinya dimiliki setiap polisi. Namum, dalam pratiknya, hal ini sulit dilakukan. 

"Inilah tindakan yang memang tidak gampang. Maka, sering sekali ada istilah bahwa polisi itu kaki kanan ada di penjara, kaki kiri ada di kuburan," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat 21 April 2017.

Dia menjelaskan, bila polisi salah mengambil tindakan sehingga mengakibatkan seseorang meningga dunia, penjara menantinya. Sebaliknya, bila terlambat mengambil tindakan, bisa menimbulkan korban atau petugas itu tewas. 

Menurut dia, diskresi adalah kewenangan untuk menilai secara subjektif suatu peristiwa kemudian mengambil pilihan yang tepat untuk keselamatan petugas dan masyarakat. Perlu latihan mendalam untuk menjalankannya. 

"Artinya, setiap anggota polisi di seluruh dunia termasuk anggota Polri harus memiliki kemampuan mampu menilai dan mengambil tindakan yang tepat," ujar jenderal bintang empat itu. 

Tito mengaku perlu evaluasi mendalam mengenai masalah diskresi. Dengan begitu, polisi bisa dengan tepat mengambil keputusan saat diskresi dilakukan. 


Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Aiptu Sunaryanto yang mendapatkan penghargaan atas diskresinya. Foto: Lukman Diah Sari.

Dia memiliki ide untuk menggelar coaching clinic untuk mengasah insting diskresi anggotanya. Polisi dididik dengan skenario suatu peristiwa lalu diminta untuk menilai kejadian tersebut. 

Selain itu, Tito berpesan kepada Lembaga Pendidikan Polri agar setiap sekolah polisi negara melatih anggota menghadapi situasi yang berbeda. Kemudian, ada diskusi untuk menentukan pilihan tindakan yang tepat. 

Sementara itu, pada April 2017, Polri dikagetkan dengan dua diskresi anggotanya. Kedua tindakan itu viral dan mendapatkan perhatian masyarakat luas.

Baca: Buah Manis Diskresi Aiptu Sunaryanto

Pertama, pada 9 April lalu, viral video penyanderaan seorang ibu sembari menggendong balitanya yang sedang disandera di dalam angkot. Kala itu, kebetulan Aiptu Sunaryanto melewati lokasi kejadian.

Rasa penasaran Sunaryanto muncul lantaran melihat keramaian di badan jalan. Dia melihat ada seorang ibu dan balita yang disandera dengan dikalungkan celurit.

Dengan sigap, Sunaryanto mengambil alih. Sempat bernegosiasi, dia memutuskan menembak lengan pelaku untuk mengakhiri drama penyanderaan tersebut. 

Kini, Sunaryanto diganjar dua penghargaan dari Kapolri. Dia mendapat tiket untuk bersekolah menjadi perwira dan sebuah pin emas karena dianggap keputusan diskresinya tepat. 

Baca: Profil Penumpang Mobil Tentukan Nasib Brigadir K

Serupa tetapi tak sama dengan Aiptu Sunaryanto. Brigadir K, polisi di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, justru kini harus berurusan dengan hukum. 

Dia menembaki mobil Honda City berisikan delapan warga, yang enggan berhenti saat razia, Selasa 18 April. Sang sopir memilih tancap gas hingga hampir menyeruduk polisi. 

Aksi Brigadir K menyebabkan satu orang tewas, lima lainnya mendapat luka tembak. Beruntung, dua bocah di mobil itu selamat. Sementara itu, Brigadir K kini masih diperiksa Propam Polda Sumsel dan Propam Polri. 


(OGI)