'Ganjil Genap' Disebut Menghambat Perputaran Bisnis

   •    Rabu, 08 Aug 2018 13:22 WIB
asian games 2018sistem ganjil genap
'Ganjil Genap' Disebut Menghambat Perputaran Bisnis
Illustrasi. MI/Ramdani.

Jakarta: Pengusaha mal dan jasa distribusi logistik mengaku menjadi pihak yang paling dirugikan dari penerapan kebijakan ganjil genap di Ibu Kota menjelang penyelenggaraan Asian Games 2018.

Pembina Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Handaka Santosa menghitung paling tidak ada penurunan sekitar 10-20 persen pengunjung pusat perbelanjaan selama pemberlakuan pembatasan kendaraan.

"Ini yang menurut kami cukup berat walau pun di pusat perbelanjaan daerah permukiman karena orang malas keluar sedikit ada kenaikan," ujarnya dalam Economic Challenges Metro TV, Selasa, 7 Agustus 2018.

Menurut Handaka hal yang bisa mengompensasi dari penurunan persentase pengunjung adalah pemerintah mengkaji kembali kebijakan tersebut. 

Penerapan ganjil genap yang berlaku selama satu minggu penuh mau tidak mau menggerus pengunjung yang umumnya mengalami peningkatan pada akhir pekan.

"Kalau tidak ditinjau akan sama saja padahal dalam keadaan ekonomi ritel tumbuh pertama kali dobel digit harus dijaga karena ini menyangkut kepentingan ekonomi," kata dia.

Senada dengan Handaka, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia Zaldi Ilham Masita juga merasakan hal yang sama. 

Ia bahkan menyebut aturan pembatasan kendaraan roda empat di jalanan Ibu Kota berlebiham sebab penyebab utama kemacetan adalah penggunaan kendaraan pribadi.

"Kalau mobil pribadi kan banyak pilihan ada motor, taksi, bus transjakarta, atau kereta komuter. Angkutan barang tidak punya pilihan semacam itu," ungkapnya.

Zaldi menyebut penerapan ganjil genap menghambat keluar masuknya barang ke dalam kota. Dampak lebih parah terjadi pada logistik ekspor impor yang terpaksa distribusinya dilakukan pada malam hari.

Ketika distribusi dilakukan malam hari, pengusaha logistik harus menjamin keamanan barang termasuk melibatkan pengawalan kepolisian dan ongkos lembur karyawan ritel yang jam operasionalnya mundur lebih malam.

"Tol Pelabuhan sampai Cawang dan Priok juga dibatasi padahal pelabuhan utama kita Priok. Ingat, ekspor impor tak kenal Asian Games, bukan untung di ekonomi bisa jadi malah rugi karena jalur kita terhambat," jelasnya.




(MEL)