Warga Tak Tahu Ada Gerakan Basmi Tikus

Nur Azizah    •    Rabu, 19 Oct 2016 14:11 WIB
hama tikus
Warga Tak Tahu Ada Gerakan Basmi Tikus
RT/06 RW/07 Kelurahan Palmerah terletak di pinggir kali inspeksi Grogol. (MTVN/Nur Azizah)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemprov DKI Jakarta punya program Gerakan Basmi Tikus (GBT), gagasan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. Warga diminta menangkap tikus dengan kompensasi Rp20 ribu per ekor. 

Namun, tak banyak warga yang tahu soal program GBT. Bahkan, Ketua RT 06 RW 07 Kelurahan Palmerah, Endi Almulyadi, bingung saat ditanya soal program GBT.

"Gerakan Basmi Tikus? Emang ada? Saya enggak tahu ada program itu," katanya, sambil tertawa.

Meski tak tahu, Endi menyambut baik GBT. Sebab, dia mengaku tempat tinggalnya memang banyak tikus.

"Di sini banyak tikus karena posisinya ada di pinggir kali," tutur pria 53 tahun itu.


Ketua RT/06 RW/07 Kelurahan Palmerah, Endi Almulyadi. (MTVN/Nur Azizah)

Informasi GBT pun belum sampai ke tingkat RW. Padahal, Anto Sudaryanto, Ketua RW 07 Kelurahan Palmerah, Jakarta Barat, mengatakan tikus cukup banyak di lingkungannya.

"Seperti di Rt 06 dan 09. Di situ mungkin banyak ya tikus-tikusnya. Tapi, kalau cuma dibasmi aja percuma. Seharusnya lingkunganya yang dibersihkan biar enggak jadi sarang tikus," kata Anto.

Lingkungan RT 06 dan 09, Palmerah Barat terletak di pinggir kali inspeksi Grogol. Selain kumuh, lingkungan itu juga padat penduduk. Satu RT ditempati sekitar 56 kepala keluarga.


RT/06 RW/07 Kelurahan Palmerah terletak di pinggir kali inspeksi Grogol. (MTVN/Nur Azizah)

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mencanangkan GBT di lingkungan padat dan kumuh. Gerakan ini bermula dari kekhawatiran penyakit yang dibawa tikus, seperti Leptospirosis, Pes, Salmonella Enterica Sarovar Typhimurium, penyakit Rat Bite Fever (RBF), dan Hantavirus Pulmonary Syndrome.


(MEL)