Wawancara Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar

Proyek Besar MRT di Empat Mata Angin Jakarta

Dian Ihsan Siregar    •    Senin, 14 Jan 2019 11:58 WIB
Proyek MRT
Proyek Besar MRT di Empat Mata Angin Jakarta
Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar. Foto-foto: Medcom.id/Dian Ihsan

Jakarta: Fase pertama jalur moda raya terpadu (MRT) tinggal sentuhan terakhir. Tak perlu menunggu lama lagi, warga ibu kota bisa menikmati transportasi massal berbasis rel ini Maret mendatang. Pengelolanya menjamin, dari Lebak Bulus menuju bundaran Hotel Indonesia, hanya butuh 30 menit. Setara dengan nonton dua video di saluran Youtube Ria Yunita atau dikenal dengan Ria Ricis.

Keberhasilan pengoperasian fase pertama ini tentu saja akan menjadi ukuran untuk fase berikutnya. Saat ini PT MRT tengah merancang pembuatan fase kedua dan fase ketiga yang akan menghubungkan empat penjuru jakarta; yakni utara ke selatan dan timur ke barat. Seperti apa rencana besar PT MRT untuk mewujudkannya, berikut obrolan lengkap wartawan Medcom.id Dian Ihsan Siregar bersama Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar, akhir pekan lalu.

Kapan MRT benar-benar beroperasi? 

Konstruksi fase pertama MRT kita targetkan selesai Maret 2019. Fase ini melayani rute Lebak Bulus menuju ke bundaran Hotel Indonesia. Saat ini posisinya sudah 98,1 persen. Uji operasi kita lakukan hingga Februari. Dari Februari akan kita uji coba operasi secara penuh pada Maret.

Total ada berapa stasiun untuk fase pertama? 

Jarak dari Lebak Bulus hingga bundaran HI sekitar 16 kilometer. Kita punya 13 stasiun. Terdiri atas tujuh stasiun layang dan enam stasiun bawah tanah. Semuanya sudah sudah rampung. Kalau anda lihat tadi satu per satu, hampir semua stasiun secara struktural susah rampung. Pekerjaan yang masih kita selesaikan adalah pekerjaan interior dan finalisasi entrance (pintu masuk) serta mekanika elektrikal. Secara konstruksi sudah tuntas.

Fasilitas apa saja yang diberikan di setiap stasiun?

Kita buat semua stasiun ramah terhadap teman-teman disabilitas, anak-anak, dan lanjut usia (lansia). Khusus di dalam kereta, kita juga menyiapkan tempat khusus untuk lansia dan disabilitas. Toilet pun ada yang khusus untuk disabilitas.

Berapa harga tiketnya?

Sekarang ini kita sedang memfinalisasi harga tiket. Kita sudah mengusulkan kepada pemerintah DKI Jakarta. Berdasarkan survei rata-rata Rp8.500. Tapi, kita juga tengah merancang harga tiket berdasarkan jarak. Usul dari kami, sepanjang satu kilometer Rp2.200. Jadi, dengan jarak terjauh atau 16 kilometer, tarifnya RpRp12.800. Ini usulan dari kami. Keputusannya ada di pemerintah. 

Apakah masyarakat bisa ikut pada uji coba MRT pada Februari nanti?

Secara terbatas kita akan undang. Kenapa terbatas, karena akan ada pengujian-pengujian. Bagi masyarakat yang tertarik bisa mengikuti caranya di website resmi MRT Jakarta. Uji coba akan dilakukan selama sebulan dari 26 Februari sampai 20 Maret 2019. Setelah itu akan ada pencanangan operasi komersial.

Dalam sehari ada berapa kereta yang beroperasi?

Pada saat uji coba akan kita berlakukan secara normal, yakni dari pukul 06.00 hingga 22.00 WIB. Namun, untuk jarak antar-rangkaian, belum kita tentukan.

Ada berapa stasiun yang akan terintegrasi dengan moda transportasi lain? 

Saat ini sudah ada lima stasiun yang secara sempurna terintegrasi dengan Transjakarta. Mulai dari Lebak Bulus di Blok M, kemudian di Sisingamaraja, Dukuh Atas, dan terakhir di Bundaran HI. Kalau yang di Bundaran HI itu kan sempurna. Si atasnya stasiun Transjakarta dan di bawahnya MRT. Seiring waktu integrasinya akan ditambah.

PEMBANGUNAN FASE KEDUA

Sepertinya ada perubahan rute untuk fase kedua?

Rencananya fase kedua MRT ini akan ada delapan stasiun. Tapi ada perubahan rute. Dari Bundaran HI akan kita bangun hingga ke Stasiun Jakarta Kota (bukan ke Kampung Bandan seperti pada rencana awal). Rencananya akan ada stasiun di Sarinah, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Glodok, dan Jakarta Kota. Semua underground (di bawah tanah).

Sempat mencuat berita jika antara stasiun Sarinah dan Monas terkendala karena masuk objek vital nasional. Bagaimana menyelesaikannya?

Kita berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk soal kawasan. Dan karena kawasan itu juga masuk revitalisasi Istana Presiden, kita juga berkoordinasi dengan Kementerian Sekretariat Negara. Rekomendasi-rekomendasi sudah diberikan. Groundbreaking-nya sedang kita cari, kemungkinan minggu terakhir Januari (sudah ada hasilnya).

Baca: Pembangunan MRT Fase II Dimulai Bulan Ini

Pembangunan fase kedua kenapa tidak sampai Kampung Bandan?

Ada persoalan hukum. Dan sampai saat terakhir kita mau eksekusi, kita belum dapat lahan di sana. Maka pemerintah memutuskan untuk membangun dulu ke Jakarta Kota, agar pekerjaan tak tertahan. Sambil proses menyiapkan dan menentukan letak depo. Kami juga sedang mempersiapkan studi apakah depo akan ditempatkan di Kampung Bandan atau di titik lain seperti di Ancol. Studi ini akan kita lakukan secepatnya.

Ada rencana akan dibangun di Stadion BMW. Apakah rencana ini juga memungkinkan? 

Ya, salah satu stasiun yang dituju adalah Stadion BMW. Tapi, apakah (depo) itu di Stadion BMW, masih akan kita studikan. Pemerintah DKI Jakarta akan membangun Stadion Persija, sehingga kalau memang itu terbangun, interkoneksi akan semakin bagus. Studi akan melihat dari ketersediaan lahan, akses, dan sebagainya.

Berapa dana yang dialokasikan untuk membangun fase kedua? 

Dana yang sudah komit dengan pemerintah Jepang Rp22,5 triliun. Itu yang akan kita pakai untuk fase kedua sampai saat ini. Secara keseluruhan fase pertama mencapai Rp16 triliun dan fase kedua Rp22,5 triliun. Jadi total Rp35 triliun sampai Rp39 triliun. Dan panjang jalur kedua fase itu mencapai 25 kilometer membentang dari utara ke selatan.

Kenapa biaya pembangunan fase kedua lebih besar, padahal jaraknya lebih pendek, hanya delapan kilometer?

Karena secara teknis dia lebih sulit. Konstruksinya itu bawah tanah semua. Apalagi ada yang dibangun di bawah Kali Ciliwung. Dan juga ada beberapa lokasi heritage. Kita akan melalui Kota Tua. Kondisi tanah juga lebih sulit saat mengarah ke pantai. Ini semua berimplikasi pada biaya pembangunan. Tapi, berapa pastinya ini sedang kita survei dan studi desain. 

Sudah ada kontraktor yang akan menggarap fase kedua? 

Belum. Baru paket groundbreaking. Kemarin kita tentukan kontraktornya. Kita akan lakukan pelelangan. Fase I itu misalnya CP201. Nantinya dari Bundaran HI sampai Harmoni. Itu pelelangannya bulan ini akan kita mulai. Kita nyusur terus CP202 Harmoni sampai Sawah Besar. Kemudian CP203 Sawah Besar sampai Kota. Itu yang kita siapkan sekarang.

Kontraktor untuk fase kedua apakah bisa kembali menggunakan fase pertama? 

Bisa saja, ini kan semudah sistem pelelangan terbuka. Catatan penting yang kita lakukan ini sifatnya karena pendanaannya dari Jepang, maka mekanismenya akan kita lakukan seperti itu.

Kapan fase kedua akan rampung?

Tahun 2024. Jadi, kalau kita bisa efektif (membangun) 2020, maka 2024 akhir fase kedua bisa beroperasi.

Baca: MRT Jakarta Fase III Terbentang 31 KM

Setelah pembangunan fase kedua, apakah akan ada pembangunan MRT lanjutan?

Kita sedang menyiapkan fase ketiga. Jadi, jalurnya membentang dari timur ke barat sepanjang 31 kilometer. Dari Kalideres sampai ke Menteng. Basic engineering design sedang dilaksanakan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Dalam waktu singkat, kalau desain selesai, tahun depan kita implementasi fase ketiga. Untuk segmen-segmen tertentu kita akan bisa selesaikan pada 2024-2025.




(UWA)