Warga Sekitar KBB Terbiasa Bongkar Pasang Bedeng

Nur Azizah    •    Senin, 13 Nov 2017 10:59 WIB
penertiban
Warga Sekitar KBB Terbiasa Bongkar Pasang Bedeng
Ncas, salah satu pemilik bedeng di jalan Tenaga Listrik, Jakarta Pusat/MTVN/Nur Azizah

Jakarta: Ncas, warga Jalan Tenaga Listrik, Jakarta Pusat, harus mengikhlaskan tempat tinggalnya dibongkar. Ini bukan pertama kali bedeng Ncas dibongkar Pemprov DKI Jakarta.

Sejak era Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, berlanjut ke era Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama dan terakhir Djarot Saiful Hidayat, bedeng Ncas selalu mendapat giliran dibongkar.

"Sudah 15 tahun lebih seperti itu. Bongkar pasang saja," kata Ncas di Jalan Tenaga Listrik, Jakarta Pusat, Senin 13 November 2017.

Tidak punya duit menjadi alasan Ncas dan suaminya tinggal di sana. Sebetulnya, Ncas warga asli Indramayu, Jawa Barat.

Sehari-hari ia mencari barang bekas. Sementara suaminya hanya mencari cacing di sekitar sungai Banjir Kanal Barat.

"Suami cuma nyari cacing. Enggak ada duit buat ngontrak. Makanya bikin kayak gini (bedeng)," kata Ncas.


Ros, salah satu penghuni bantaran KBB/MTVN/Nur Azizah

Tak hanya Ncas, Ros juga rajin bongkar pasang bedeng. Alasannya sama, tidak ada uang untuk mengontrak.

Sehari-hari, perempuan berusia 38 tahun ini mencari barang tak terpakai. Ros sudah 10 tahun menempati bedeng berukuran 2x3 meter itu.

"Sudah 10 tahun buat menaruh barang-barang ini. Tapi malam ditempati juga," ungkap Ros.

Yang membuat Ros betah tinggal di sana karena tidak adanya biaya sewa. Dia bebas tinggal tanpa diganggu preman.

"Enggak ada yang malak sih. Enggak bayar lapak juga," ucap Ros.


Proses penertiban/MTVN/Nur Azizah

Hari ini, sekitar 130 bedeng di pinggir Kanal Banjir Barat dibongkar. Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede mengatakan, gubuk liar di bantaran KBB dianggap berpotensi menyebabkan berbagai masalah.

"Yang paling meresahkan, diskotek karena ada informasi ditemukan miras, dan prostitusi di situ," kata Mangara kepada Metrotvnews.com, Selasa 7 November 2017.

Kondisi ini mencemaskan warga. Terlebih lagi, bantaran KBB digunakan masyarakat sebagai jalur transportasi.

Mangara juga mempertanyakan sumber listrik yang digunakan warga di lokasi. Pasalnya, lokasi itu berdekatan Stasiun Tanah Abang dan PLN.

Permasalahan lain, kata Manggara, bangunan semipermanen itu menghambat normalisasi Kanal Banjir Barat. Truk proyek sulit lalu-lalang karena terhalang bangunan liar milik warga yang menjorok ke jalan.


(OJE)