Menelusuri Jalan Alternatif di Sudirman

Lis Pratiwi    •    Jumat, 11 Aug 2017 17:04 WIB
pembatasan sepeda motor
Menelusuri Jalan Alternatif di Sudirman
Ilustrasi: Sepeda motor mulai dibatasi di beberapa ruas jalan Ibu Kota. Foto: MTVN/Mohammad Rizal.

Metrotvnews.com, Jakarta: Jalan arteri sepanjang Sudirman diprediksi akan diburu pemotor bila rencana larangan sepeda motor resmi diberlakukan di jalan protokol itu. Peningkatan arus lalu lintas disinyalir dapat memicu kemacetan karena ruas jalan yang tak terlalu lebar.

Salah satu jalan alternatif di kawasan Sudirman adalah Jalan Penjernihan I. Jalan ini tepat berada di antara Mayapada Tower I dan Gedung World Trade Centre. Jalan ini menghubungkan Jalan Komando dengan Jalan Sudirman.


Jalan Penjernihan I yang berada di antara Mayapada Tower I dan World Trade Centre. Foto: MTVN/Lis Pratiwi.

Kendati hanya beberapa puluh meter, jalan ini memiliki peran penting. Salah satunya sebagai jalan alternatif pengendara dari dan menuju Setiabudi, Jalan Satrio, hingga Kuningan.

Kendati tinggi pengguna, lebar jalan ini hanya sekitar enam meter. Di sisi kanan, ia berbatasan dengan pagar World Trade Centre yang terdapat trotoar selebar satu meter. Sementara itu, sisi yang berbatasan dengan Mayapada Tower I dijajaki berbagai pedagang kaki lima, ojek pangkalan, hingga parkir ilegal.

"Sudah puluhan tahun seperti ini memang, tapi cuma sampai pintu gerbang parkir Mayapada Tower I. Kalau lewat gerbang itu enggak ada lagi tukang makanan atau parkiran. Ada lagi di pertigaan," jelas Yasin, salah satu penjaga parkir ilegal kepada Metrotvnews.com, Jumat 11 Agustus 2017.


Parkir ilegal dan lalu lalang kendaraan di Jalan Penjernihan I. Foto: MTVN/Lis Pratiwi.

Di ujung Jalan Penjernihan I terdapat pertigaan, sisi kanan dan kiri jalan ini merupakan Jalan Komando. Jika larangan motor diberlakukan, jalan ini akan menjadi akses masuk karyawan di gedung-gedung sekitarnya.

Di sebelah kiri Jalan Komando, tepatnya di belakang Mayapada Tower I dan Mayapada Tower II, badan jalan lebih sempit. Di ujung jalan ini adalah Jalan Karet Gusuran yang menjadi jalur alternatif menuju Setiabudi.


Salah satu sisi Jalan Komando yang dipenuhi pedagang kaki lima. Foto: MTVN/Lis Pratiwi.

Tidak ada trotoar di sepanjang Jalan Komando sisi ini. Sementara itu, bagian kiri jalan, pedagang makanan tampak memarkir gerobak yang kian mempersempit jalan. Kendaraan yang lewat harus berhati-hati karena ada pejalan kaki yang lalu lalang.

"Di sini memang setiap hari seperti ini. Tapi kalau sore saya kurang tahu karena penjual makanan di sini hanya sampai jam setengah empat sore," kata Yono, penjual nasi goreng yang berjualan di pinggir Jalan Komando.

Sementara itu, sisi kanan Jalan Komando dari arah Jalan Penjernihan I tampak berbeda. Sisi Jalan Komando ini berada tepat di belakang World Trade Centre I, World Trade Centre II, Wisma Nusantara, hingga Sampoerna Strategic Square.

Bagian ini tampak lebih luas dari Jalan Komando di sisi sebelumnya. Lebarnya lebih dari 10 meter, sisi jalan yang berbatasan dengan pagar WTC pun dikelilingi trotoar. Sementara sisi lainnya terdapat bangunan permanen yang mayoritas diisi restoran dan penjual makanan.


Sisi lain Jalan Komando di belakang World Trade Centre dan Wisma Nusantara. Foto: MTVN/Lis Pratiwi.

Papan larangan berjualan terpampang beberapa sudut pagar WTC. Jalanan pun lebih rapi karena tidak ada penjual makanan kaki lima yang membuka gerai. Namun, ada beberapa pedagang dengan gerobak yang memarkir dan berpindah-pindah. 

"Kalau bagian (Jalan Komando) ini memang lebih rapi, jalannya juga lebih lebar dibanding yang ke arah Setiabudi. Paling kalau ada pedagang yang mangkal pakai gerobak roda atau panggul, jadi bisa pindah," tutur Heru, salah satu satpam di kawasan tersebut.

Tidak ada kepadatan di Jalan Komando sisi ini. Pengemudi pun bisa leluasa memacu kendarannya. Di jalan ini bahkan terdapat pembatas jalan dari beton sebagai pemisah rute.

Di ujung jalan, terdapat pertigaan yang menghubungkan antara Jalan Komando, Jalan Karet Belakang Barat, serta Jalan Bek Murad. Jalan Bek Murad ini adalah penghubung dan alternatif lain menuju Jalan Prof. DR. Satrio hingga Kasablanka.


Pertigaan Jalan Komando, Jalan Karet Belakang Barat, dan Jalan Bek Murad yang menuju Jalan Prof. DR. Satrio. Foto: MTVN/Lis Pratiwi.

Melewati Jalan Prof. DR. Satrio, pengendara bisa melaju di jalan alternatif lain. Yaitu Jalan Karet Sawah dan Jalan Garnisun untuk sampai ke Cawang atau Semanggi tanpa melewati Jalan Sudirman. 

Baca: Parkir Ilegal di Sudirman Diperkirakan Meningkat

Pengendara pun diharapkan mempelajari lebih dalam jalan-jalan arteri di sekitar Sudirman agar lebih efektif. "Kalau yang biasa lewat mungkin tahu jalan-jalan tembusnya ya. Kalau yang tidak tahu kan kasihan jadi bingung mau ke gedung-gedung di sekitar Sudirman ini," beber Muha Kastadi, tukang ojek di sekitar Sudirman.


(OGI)