Nasib Malang Halte-Halte Pengumpan

Akmal Fauzi    •    Sabtu, 15 Jul 2017 09:53 WIB
transportasihalte transjakarta
Nasib Malang Halte-Halte Pengumpan
Pengendara motor melewati halte pengumpan di Jalan Joyo Martono, Bekasi, Jawa Barat Rabu (8/7/2015). Foto: MI/Galih Pradipta

Metrotvnews.com, Jakarta: Kosong dan kusam ialah dua kata yang menggambarkan halte mini seluas 3x1 meter yang teronggok di trotoar Jalan Kedoya Raya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Itu satu dari 12 halte bus pengumpan (feeder) Trans-Jakarta di Jakarta Barat.

Sejak penghentian operasional armada feeder Trans-Jakarta trayek Puri Kembangan-Taman Kota pada Desember 2012, halte tersebut tak jelas peruntukannya. Tak ada seorang pun terlihat berdiri di atas halte setinggi 1 meter itu.

Untuk menunggu angkutan kota, jelas tak mungkin karena tinggi lantai halte dirancang untuk pijakan bus. Namun, tak ada pula Metromini atau Kopaja yang mau berhenti di sana.

"Halte ini justru mengganggu pengguna jalan. Mau nunggu mobil enggak bisa, kan beda haltenya lebih tinggi. Dibongkar saja," kata Sarif, 41, warga setempat.

Sarif mengatakan beberapa baut di halte juga sempat dicuri. Bahkan, jika malam dijadikan tempat nongkrong pemuda. "Kadang anak-anak nongkrong pada mabuk di situ," imbuhnya.

Menurutnya, wajar saja halte itu malah dijadikan spot nongkrong 'akamsi' alias 'anak kampung sini'. Dengan kondisi tanpa lampu, pada malam hari mereka merasa bebas nongkrong tanpa terlihat jelas.

Di sepanjang Jalan Kedoya Raya, ada tiga halte feeder dengan jarak masing-masing mencapai 1 kilometer. Ketiganya tampak dalam kondisi kusam. Ada pula yang dicoreng coretan-coretan.

Salah konsep

Halte-halte di sejumlah jalan lainnya di wilayah Jakarta Barat bernasib serupa. Tak terurus dan dibiarkan menjadi rongsokan. Hampir lima tahun ditinggalkan, beberapa tiang penyangga tampak telah membengkok. Besi-besinya pun terlihat berkarat dan keropos. Debu melapisi permukaan lantainya.

Wakil Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Sigit Wijatmoko mengatakan pihaknya masih melakukan pendataan halte-halte feeder yang sudah tidak berfungsi lagi. Mereka berencana mengkaji ulang, mana yang perlu perbaikan, mana yang tidak.

"Bila nantinya masih ada trayek, kita perbaiki. Namun, kalau tidak, mungkin solusi lainnya dihancurkan," tutur Sigit.

Pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Joga menilai konsep pembangunan halte feeder itu salah. Sistem feeder itu ditambahkan belakangan, tidak dirancang sejak pembangunan halte bus Trans-Jakarta.

Bus feeder dinilainya bukan solusi bagi penumpang karena mereka perlu lebih dari 30 menit menunggu bus-bus itu datang. "Justru tidak efektif, lebih baik dibongkar saja," tandasnya.




(UWA)