Menelusuri Jejak Duit Lahan Cengkareng Barat

Nur Azizah    •    Selasa, 26 Jul 2016 15:56 WIB
pembelian lahan cengkareng
Menelusuri Jejak Duit Lahan Cengkareng Barat
Lahan sengketa di Cengkareng Barat. Foto: Googlemaps.

Metrotvnews.com, Jakarta: Duit gratifikasi pembelian lahan Cengkareng Barat, Jakarta Barat, diduga mengalir ke banyak pihak. Lahan seluas 4,6 hektare itu dijual 'pemilik' lahan, Toeti Noezlar Soekarno, seharga Rp668 miliar ke Dinas Perumahan DKI Jakarta pada November 2015.
 
Uang 'terima kasih' itu dibagikan dalam jumlah beragam, mulai dari jutaan rupiah hingga miliaran rupiah. Sampai saat ini angka uang gratifikasi yang paling besar diterima mantan Kepala Bidang Pembangunan Perumahan dan Permukiman Dinas Perumahan DKI Sukmana.
 
Pada Januari 2016, Sukmana disodorkan uang Rp9,6 miliar. Fulus diserahkan langsung oleh kuasa tanah Toeti Soekarno, Rudy Hartono Iskandar.
 
Sukmana sempat terkejut menerima uang berjumlah fantastis itu. Sukmana juga menanyakan untuk apa uang sebanyak itu diberikan kepada dirinya.
 
"Dia bilang uang terima kasih operasional dinas dan dia langsung pergi," kata Sukmana Kepada Metrotvnews.com, Jumat (1/7/2016).

Tak sampai di situ, beberapa pejabat kota disebut-sebut ikut kecipratan uang pembelian lahan yang berada di Rawa Bengkel, Cengkareng Barat. Mantan Lurah Cengkareng Barat Mohammad Hatta mengaku mendapat uang sebesar Rp250 juta. Uang tersebut sebagai tanda terima kasih setelah dirinya meneken surat lahan milik Toeti Soekarno tidak dalam sengketa.
 
"Iya (menerima uang). Tapi, kan saya enggak pernah ambil. Itu sudah dikasih ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)," kata Hatta pada Metrotvnews.com di Kalideres, Jakarta Barat, Selasa (19/7/2016).


Rumah kediaman Hatta di kawasan Kalideres, Jakarta Barat. Foto: MTVN/Nur Azizah
 
Hatta mengaku tak mengetahui asal muasal uang tersebut. Ia membantah Rudy Hartono Iskandar yang memberikan uang tersebut.
 
"Enggak tahu saya (asal uang). Saya sudah takut terima itu. Saya juga sudah itikad baik untuk mengembalikan ke KPK," ungkap Hatta.

Tersiar kabar, Hatta memperoleh uang itu dari Camat Cengkareng, Masud Effendi. Masud diduga mendapatkan uang dari Rudy untuk membagi-bagikan ke beberapa pejabat kelurahan yang terlibat.

"Ya Udah lah. Enggak usah ini lah. Ntar ini lagi. Pokoknya itu, ntar kalo saya ngomong, itu lagi." tutur Hatta.

Saat dikonfirmasi, Masud Effendi tak mengambil pusing. Ia menyerahkan masalah tersebut kepada penyidik Bareskrim.

"Itu kan hak dia untuk menjawab. Saya enggak tahu. Biarlah masalah ini ditangani oleh bareskrim," jawab Masud.
 
Kemudian, mantan Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Cengkareng Barat Gozali juga menerima gratifikasi. Kabarnya, paraf Gozali dihargai Rp30 juta hingga Rp35 juta.
 
Baca: Satu Lahan Empat Pemilik

Namun, ia buru-buru membantah kabar tersebut. Kendati begitu, Gozali tak nemampik bila dirinya menerima uang sebagai hadiah. Uang ia terima setelah tiga kali mengurus surat pengajuan sertifikat tanah milik Toeti Soekarno.
 
"Demi Allah saya enggak terima segitu (Rp35 juta). Kalau jumlahnya segitu, saya enggak seperti ini. Saya dikasih Rp5 juta doang," tegas Gozali kepada Metrotvnews.com, Jakarta Barat, Senin (25/7/2016).
 
Menurut pengakuannya, mantan Lurah Cengkareng Barat Tarso yang memberikan uang tersebut. Berdasarkan informasi yang didapat, Tarso mendapat jatah Rp2 miliar dari Rudy Hartono Iskandar.
 
Tarso diduga sebagai saksi kunci yang mengetahui seluruh proses pembuatan sertifikat milik Toeti Soekarno. Namun, hingga saat ini, Tarso belum bisa dikonfirmasi.


Kelurahan Cengkarenag Barat. Foto: jakarta.go.id
 

Mencari Tarso
 
Sejak Kamis 30 Juni 2016 Metrotvnews.com mencoba menelusuri keberadaan Tarso. Dia dikabarkan dimutasi ke Kelurahan Pegadungan, Jakarta Utara. Namun, saat menyambangi Kelurahan Pegadungan, Tarso sudah distafkan ke Kelurahan Duri Kosambi.
 
Sejak itu, hampir setiap hari Metrotvnews.com menyambangi tempat Tarso bekerja untuk memperoleh keterangan darinya. Sayangnya, hingga hari ini Tarso belum juga menunjukan batang hidungnya.
 
"Dia kalau datang itu pagi-pagi banget. Sekitar pukul 06.30 WIB, terus langsung pulang. Datang lagi bisa pukul 19.00 WIB atau 19.30 WIB. Pokoknya pas lagi sepi," tutur Bendahara Kelurahan Duri Kosambi, Apin.
 
Tak hanya mencari di tempatnya bekerja, Metrotvnews.com juga mendatangi kediaman Tarso di Jalan Ulan Raya RW 03, Duri Kosambi, Jakarta Barat. Sejak Kamis 30 Juni 2016 hingga kini, kediaman Tarso tampak sepi.
 
Dari balik gerbang, yang terlihat hanya tiang-tiang besi yang masih dalam proses pembangunan. "Dari seminggu sebelum puasa sudah berhenti. Enggak tahu dilanjut lagi atau tidak. Saya juga udah enggak pernah ketemu sama orangnya. Katanya sih pindah di Greenlake," tutur Yunus, salah satu tetangga Tarso.
 
Lalu, Rabu, 13 Juli 2016 Metrotvnews.com, menyambangi tempat tinggal Tarso yang baru di perumahan Greenlake City, Duri Kosambi. Namun, tidak diizinkan masuk oleh petugas keamanan setempat.
 
"Kami belum dapat izin dari pak Tarso kalau mbak boleh masuk atau tidak," ujar salah satu satpam.
 
Menurut satpam lainnya, Taufik, Tarso sudah tinggal di Cluster Australia sekitar dua bulan lalu.
Pada Selasa, 19 Juli 2016, Metrotvnews.com, mencoba mendatangi kembali rumah pria asal Kuningan itu, namun tidak membuahkan hasil. Sampai saat ini, Metrotvnews.com, masih mengejar keterangan dari saksi kunci pembuatan sertifikat Toeti Soekarno itu.


 
Selain Tarso, Metrotvnews.com juga terus mengejar kesaksian Rudy Hartono Iskandar. Rudy diduga mengetahui seluruh proses pembelian lahan Cengkareng Barat hingga pembagian gratifikasi.
 
Rabu, 13 Juli 2016 Metrotvnews.com bertandang ke rumah Rudy di Bukit Golf I Pondok Indah, Jakarta Selatan. Sayangnya, Rudy tidak di tempat.
 
"Bapak lagi pergi ke Australia, dari sekitar lima hari sebelum lebaran," kata tukang kebun Rudy, Karim.
 
Karim menuturkan, Rudy rutin ke negeri Kangguru untuk menjenguk anaknya yang sedang menimba ilmu. Setidaknya, dalam setahun, pemilik showroom mobil RHYS di Radio dalam itu bisa tiga kali ke Australia.
 
Ia menambahkan, Rudy sudah mendapat surat panggilan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak tiga bulan lalu. Seminggu setelahnya, Metrotvnews.com, mencoba mendatangi kediaman Rudy kembali, namun direktur dari PT Andi Artha itu belum juga tida di Indonesia.
 
Metrotvnews.com pun sudah berulangkali menghubungi Rudy melalui sambungan telepon dan aplikasi whatsapp, namun tidak ada jawaban. Padahal, nomor yang ia gunakan aktif.


(FZN)

KPK Hormati Putusan Sela Praperadilan Novanto

KPK Hormati Putusan Sela Praperadilan Novanto

1 day Ago

KPK akan tetap menghadapi proses persidangan selanjutnya yang masuk dalam tahap pembuktian.

BERITA LAINNYA