Mereka Khawatir Diejek Siswa SMAN 10

Media Indonesia    •    Senin, 14 Aug 2017 08:26 WIB
pendidikansekolah
Mereka Khawatir Diejek Siswa SMAN 10
Ilustrasi--SMAN 10--Metrotvnews.com/Juven

Metrotvnews.com, Jakarta: Tasya Anggi, 16, amat bersyukur karena kegiatan belajar mengajar di sekolahnya sudah dimulai sejak Kamis 10 Agustus 2017. Semula hati kecil remaja yang beranjak dewasa tersebut pesimistis bisa sekolah pada tahun ajaran ini.

Nasib Tasya dan 71 siswa kelas X SMAN 10 Kota Bekasi menjadi terang setelah Kepala Disdik Provinsi Jabar Ahmad Hadadi menyatakan mereka diikutkan di sekolah terbuka.

Tasya menyambut gembira keputusan Kadisdik Jabar tersebut. "Saya memang sudah pesimistis dapat belajar normal karena sudah tiga pekan lebih tidak ada guru yang mengajar. Alhamdulillah sejak Kamis sudah ada guru yang mengajar. Saya kembali optimistis," ujar Tasya, Minggu 13 Agustus 2017.

Baca: Hak 57 Siswa SMA Negeri 10 Terbuka Dijamin Sama

Meski demikian, Tasya tak menampik ada kemungkinan diejek siswa SMAN 10 reguler. Karena ia dan teman-temannya belajar tidak satu gedung dengan yang lain. Saat ini ke-72 siswa belajar di gedung SMK Yaperti di Jalan Nusa Indah XI, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria.

"Hanya saat acara tertentu kami ke sekolah (SMAN 10) seperti upacara, atau pengarahan guru lain. Agak khawatir sih diejek, enggak nyamannya di situ," lanjut dia.

Tasya bersama dengan 71 siswa lain masuk SMAN 10 melalui jalur zonasi susulan yang ditetapkan Wali Kota Bekasi. Ia diterima meski sebenarnya kuota sudah penuh. Status mereka sempat menjadi tidak jelas hingga Kadisdik Jabar menerbitkan keputusan belajar di gedung lain.

Baca: Siswa Terlantar SMAN 10 Bekasi Sepakat Dipindah ke SMA Terbuka

Sementara itu, Ketua Forum Perwakilan Orangtua Siswa Fanny Plontho mengaku puas dengan kebijakan Kadisdik dan hasil mediasi dengan para guru SMAN 10.

Dia berharap semua keputusan dari dialog yang diadakan pada Sabtu 12 Agustus 2017 menjadi acuan pihak sekolah ke depan.

"Hasil sosialisasi cukup memuaskan orangtua murid dan kami semua menerima hasil mediasi yang terjadi. Kami harap hasil ini bisa dibawa dan dipakai untuk tiga tahun ke depan," ujarnya.

Fanny menyatakan orangtua akan terus memantau perkembangan anak-anak mereka agar tetap mendapatkan hak sebagai pelajar SMA Negeri 10. "Tugas kami mengawal proses belajar-mengajar dan memberi semangat agar anak-anak kembali memiliki semangat belajar," imbuhnya.


(YDH)