Sandi Hati-hati Tanggapi Paradise Papers

LB Ciputri Hutabarat    •    Senin, 06 Nov 2017 16:36 WIB
paradise paper
Sandi Hati-hati Tanggapi Paradise Papers
Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. Foto: Metrotvnews.com/Surya Perkasa

Metrotvnews.com, Jakarta: Nama Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno muncul dalam dokumen Paradise Papers. Sandi tak menanggapi secara detail soal kasus ini.

"Saya sendiri baru baca (soal Paradise Papers)," kata Sandi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin, 6 November 2017.

Dia menuturkan akan mencari tahu lebih jauh soal keterkaitan dirinya dengan Paradise Papers seperti yang telah ramai di media

"Tadi saya gak sengaja baca artikel di Kompas.com atau CNN. Saya akan gali lagi," kata dia.

Dalam dokumen yang dirilis International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), Sandi disebut sebagai salah satu pemilik NTI Resources yang terdaftar di negara surga pajak, yakni Bermuda. Hal itu terungkap dari data yang dimiliki firma hukum offshore, Appleby.

Baca: Nama Pengusaha dan Tokoh RI Muncul di Paradise Papers

Beberapa tokoh Indonesia masuk juga ke dalam dokumen Paradise Papers. Mereka adalah Ketua Partai Gerindra Prabowo Subianto, Tommy dan Mamiek Suharto, dan Kepala Koordinasi Badan Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong.

Nama lain yang tercatat menimbun kekayaan di luar negeri dan di kawasan surga pajak adalah mantan Wakil Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khaled bin Sultan bin Abdulaziz dan mantan Presiden Kosta Rika Jose Maria Figueres.

Kemudian, tiga mantan Perdana Menteri Kanada Jean Chretien, Paul Martin, Brian Mulroney, Ratu Elizabeth II, dan Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross.

Baca: Fadli Zon tak Yakin soal Prabowo Tercantum di 'Paradise Papers'

“Kami tak bermaksud menyiratkan setiap orang, perusahaan, atau entitas lain yang disebut telah melanggar hukum atau bertindak dengan tidak semestinya. Banyak orang dan entitas memiliki nama yang sama atau serupa,” tulis ICIJ seperti dikutip dari keterangan resminya, 5 November 2017.

Mirip dengan kasus Panama Papers tahun lalu, Paradise Papers merupakan penyelidikan global terhadap aktivitas mencurigakan sejumlah perusahaan dan tokoh berpengaruh di dunia. Konsorsium Investigasi Internasional dan 95 mitra media mengeksplorasi 13,4 juta data bocor dari para penyedia layanan offshore.


(UWA)