Pemerintah Didesak Perhatikan Nelayan Kecil

Fachri Audhia Hafiez    •    Senin, 30 Apr 2018 13:11 WIB
nelayan
Pemerintah Didesak Perhatikan Nelayan Kecil
Ilustrasi--suasana diskusi 'Menyoal Kepastian Hukum dan Perlindungan Nelayan Dalam Pemanfaatan Ruang Laut Teluk Jakarta' di KAHMI Center - Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Jakarta: Kawasan Teluk Jakarta dinilai memerlukan kepastian hukum dalam hal perencanaan dan pengelolaan sebagai wilayah strategis nasional. Pasalnya, kawasan tersebut dinilai banyak memiliki permasalahan.

Ketua Harian Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia, Marthin Hadiwinata, mengatakan salah satu permasalahan yang terjadi di kawasan Teluk Jakarta adalah kurangnya perlindungan bagi nelayan skala kecil.

"Nelayan skala kecil ini perlu dilindungi dan dijamin agar dapat berlanjut mata pencahariannya dan bisa menjadi kontribusi positif," kata Marthin di Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Center, Jalan Turi I No. 14 Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin, 30 April 2018.

Baca: Reklamasi Teluk Jakarta Rugikan Nelayan

Marthin mengatakan secara nasional Indonesia memang sudah berkontribusi untuk memberdayakan nelayan. Seperti yang tertuang dalam Pasal 25 ayat 5 UU Nomor 7 tahun 2016 yang menyebutkan, penetapan dengan memberikan ruang penghidupan dan akses kepada
nelayan kecil, nelayan tradisional, pembudaya ikan kecil, dan petambak garam kecil.

"Penting menyatakan bahwa setiap perencanaan pemanfaatan, alokasi yang penghidupan bagi nelayan bisa berbentuk perlindungan di kawasan pesisir," tutur Marthin.

Dia menegaskan pemanfaatan ruang teluk Jakarta perlu melibatkan nelayan tradisional. Sebab, selama ini dia memandang nelayan belum dilibatkan secara maksimal.

Selain itu, reklamasi yang dibangun di teluk Jakarta dapat merusak lingkungan dan menjadi partisitif. Reklamasi tersebut, Marthin menegaskan, tidak layak dalam memberdayakan nelayan.

"Itu konsen kami untuk pemanfaatan teluk Jakarta, reklamasi itu sendiri akan merusak lingkungan yang tidak partisitif, reklamasi tidak layak," pungkasnya.



(YDH)