72 Siswa Andalkan Relawan untuk Belajar

Gana Buana    •    Kamis, 10 Aug 2017 09:45 WIB
sekolah
72 Siswa Andalkan Relawan untuk Belajar
Ilustrasi--MI/ROMMY PUJIANTO

Metrotvnews.com, Jakarta: Tasya Anggi, 16 terlihat serius mendengarkan penjelasan seorang guru di gedung milik SMK Yaperti di Jalan Nusa Indah XI, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi. Sesekali ia mencatat apa yang dipaparkan guru. Tak jarang bertanya apabila penjelasan yang didapat kurang bisa dipahami.

Siswi ini rupanya bukanlah siswi SMK swasta Yaperti. Pada Tahun Ajaran baru 2017/2018, Anggi dan 72 siswa lainnya mendaftar masuk ke SMA Negeri 10 di Jalan Flamboyan Raya Perum Harapan Indah, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi.

Namun, sejak awal tahun ajaran baru mereka terkatung-katung tanpa pengajaran dari guru resmi dari sekolah terkait.

Meskipun, nasib status Anggi sebagai siswi masih terkatung, namun Anggi bersemangat untuk belajar. Buktinya, walau hanya di kelas darurat, pukul 07.00 WIB, ia dan kawan lainnya sudah berkumpul di dua ruang kelas di SMA Yaperti tempat sekolah SMA Negeri 10 mengungsikan mereka.

"Dari tiga minggu lalu. Kami tetap datang ke sekolah pagi pulang siang," tutur Anggi pada Media Indonesia, Rabu 9 Agustus 2017.

Anggi dan 72 siswa lainnya sudah mengikuti rangkaian acara kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMA Negeri 10. Acara tersebut diadakan satu pekan di awal tahun ajaran baru pada 17 Juli lalu. Setelah itu Anggi pun pernah diajar oleh guru dari SMA Negeri 10.

Selanjutnya, hingga hari ini Rabu 9 Agustus 2017 guru resmi dari sekolah berhenti mengajar mereka. Karena itu, atas inisiatif para orangtua siswa sebagian dari mereka mau membantu mengisi pelajaran di dua kelas yang ditinggalkan tanpa kejelasan nasib. "Baru kemarin belajar, ibunya David ngajarin kita pelajaran Bahasa Inggris," jelas Anggi.

Evi Christine, salah satu relawan tenaga pengajar di dua kelas tersebut mengaku membantu mengajar, karena panggilan hati nurani. Dia prihatin dengan nasib anaknya yang tak juga mulai belajar di sekolah. "Dari awal masuk sekolah dia mengeluh belum belajar, saya ibunya ya jelas marah," kata dia.

Sebagai wanita yang pernah menjadi tenaga pengajar kontrak di salah satu SMA Negeri di Jawa Tengah Ia pun memutuskan untuk mengisi jam kosong 72 siswa dengan ilmunya.

"Kemarin saya isi dengan Bahasa Inggris, materinya 'Good Manner'. Memang bukan kurikulum resmi tapi ini untuk mengisi waktu anak-anak agar tidak terbuang sia-sia," jelas Evi.

Ketua perkumpulan Orang tua 72 siswa tersebut, Fanni Plontho menyampaikan, sampai dengan hari ini janji pihak sekolah belum terlaksana. Terpaksa tenaga pengajar relawan dari orangtua siswa pun masih jadi andalan.

"Ada dua orang relawan yang bersedia mengajarkan siswa-siswi, tetapi jamnya memang masih tidak beraturan. Yah namanya relawan jadi jamnya sebisa mereka," kata dia.

Fanni menjelaskan, baru beberapa mata pelajaran yang bisa diajarkan pada para siswa. Diantaranya pendidikan kewarganegaraan, Bahasa Inggris, Biologi dan pendidikan agama.
Ia mengaku bahan ajar yang digunakan memang jauh dari standar baku kurikulum. Sebab, pengajar yang rela mengajari siswa bukanlah tenaga pengajar yang tersertifikasi dari lembaga kedinasan atau kementerian tertentu.

"Yang kami miliki hanya hati nurani. Meski tidak bersertifikat namun masih berupaya agar anak-anak bisa belajar, dari pada yang bersertifikat namun terbentur aturan," ujar Fanni.

Ia berharap, pihak sekolah dan pemerintah mewujudkan opsi terbaik bagi para siswa. Apabila pilihan membuka sekolah terbuka bagi siswa yang terbaik, maka status, ijazah serta hak-hak 72 siswa ini pun harus disamakan dengan siswa lainnya dari SMA Negeri 10.

"Kami memang belum bersepakat, karena kami mau ada jaminan penyamarataan dulu bagi anak-anak kami," tegas Fanni.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bekasi Innayatullah hanya bisa membantu mediasi antara wali murid dengan pihak Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Bahkan, Ia pun mengaku sudah dua kali berkirim surat agar masalah tersebut cepat selesai. Sebab mengingat sebentar lagi siswa sudah masuk masa Ujian Tengah Semester (UTS). "Secepatnya kami upayakan adakan pertemuan, agar tidak berlarut terlalu lama," singkat Inay.

Sebanyak 72 orang siswa yang masuk ke SMA Negeri 10 melalui jalur zonasi susulan yang ditetapkan Pemerintah Kota Bekasi terkatung menunggu status kesiswaan. Mereka masuk sekolah memang bukan dari jalur resmi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai pihak yang berwenang. Melainkan, atas intruksi Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi yang meminta sekolah menambah jumlah peserta rombongan belajar (Rombel) yang tadinya hanya 36 siswa menjadi 40 siswa.

Sebetulnya, pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah merestui permohonan tersebut. Namun, belakangan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menolak hal tersebut.


(YDH)