Pedagang Keluhkan Harga Bawang Putih dari Pemerintah

   •    Rabu, 17 May 2017 20:57 WIB
bawang
Pedagang Keluhkan Harga Bawang Putih dari Pemerintah
Ilustrasi. Foto: MI/Dwi Apriani

Metrotvnews.com, Jakarta: Pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mengeluhkan harga bawang putih yang dijual pemerintah melalui operasi pasar. Harga jual bawang putih Rp25 ribu per kilogram dinilai terlalu murah.

"Bagaimana dagangan saya mau laku. Saya jual sesuai HET (harga eceran tertinggi), sementara ada yang jual Rp25 ribu per kilogram," kata Jelly, pedagang bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati, seperti dilansir Antara, Rabu 17 Mei 2017.

Harga bawang putih sendiri diakui Jelly mengalami penurunan sejak akhir pekan kemarin. Sejak Jumat, harga diakuinya mengalami penurunan signifikan.

Murahnya harga bawang putih yang dijual pemerintah membuat pedagang dan konsumen berspekulasi. Mereka menduga bawang yang dijual stok lama. "Karena saya menemukan ada bawang dalam kondisi busuk dan tak layak konsumsi," kata Jelly.

Wanita asal Sumatera Utara ini berharap pemerintah memperhatikan pedagang dan pembeli. "Pemerintah harus perhatikan nasib pedagang dan pembeli. Stabilkan harganya, berikan kuliatas yang bagus," kata dia.

Manager Pasar Induk Kramat Jati, Nurman Hadi, mengaku belum mendapatkan informasi mengenai adanya bawang di bawah kualitas. Ia mengaku akan mengecek mutu bawang jika ada pengaduan.

"Kalau memang ada kualitas bawang yang tak sesuai standar, pasti pedagang melapor ke kita," ujarnya.

Baca: Izin Importir Penimbun Bawang Dicabut

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan banyak daerah di Indonesia belum bisa memproduksi bawang putih untuk memenuhi permintaan dalam negeri.

"Iklim kita memang tropis, tapi belum bisa menghasilkan bawang putih untuk kebutuhan rakyatnya. Kebanyakan bawang putih yang beredar itu impor," kata Ketua KPPU Syarkawi Rauf.

Mengutip dari Kementerian Pertanian, KPPU menyatakan, kebutuhan bawang putih nasional mencapai 500 ribu ton per tahun. Jumlah tersebut, belum tidak dapat dipenuhi Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik. Alhasil, harus mengandalkan importir umum maupun importir produsen.

 


(UWA)