72 Persen Penderita HIV di Jakarta Adalah Pria

Nur Azizah    •    Kamis, 01 Dec 2016 00:09 WIB
aids
72 Persen Penderita HIV di Jakarta Adalah Pria
Foto ilustrasi. (Ant/Basri Marzuki)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebanyak 72 persen dari 4,695 penderita HIV merupakan kaum pria. Mayoritas didominasi penderita berusia 25 sampai 49 tahun.

Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti mengatakan, pada tahun 2015, pria penderita HIV dari umur 5 hingga 14 tahun hanya 20 orang. Lalu penderita dari usia 15 hingga 19 tahun sebanyak 81 orang, dan penderita dari 20 hingga 24 tahun sebesar 673 pria.

Angka tersebut berlipat ganda di penderita pria dengan rentan umur 25 sampai 49 tahun, sebanyak 3.056 pria. Sementara penderita pria berusia lebih dari 50 tahun berkisar 185 jiwa.

"Kalau anak laki-laki berusia di bawah empat tahun ada sekitar 57 anak," Widyastuti di kantor Dinkes DKI, Jakarta Pusat, Rabu (30/11/2016).

Baca: Jumlah Penderita HIV/AIDS di Jakarta Menurun

Sama halnya dengan penderita pria, penderita HIV dari kalangan wanita paling banyak dari umur 25 sampai 49 tahun. Penderita wanita usia 5 sampai 14 tahun sebanyak 32 orang dan penderita wanita berusia 15 hingga 19 tahun ada 91 orang.


Kabid Pengendalian Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti--Metrotvnews.com/Nur Azizah

Sementara penderita wanita usia 20-24 tahun ada 293 orang. Kemufian penderita wanita usia 25-49 tahun mencapai 1.088 orang, dan penderita wanita usia lebih dari 50 tahun sebesar 41 tahun.

"Nah kalau penderita wanita dibawah 4 tahun berkisar 34 orang. Data itu tahun 2015, untuk 2016 belum," lanjutnya.

Penyebab

Widyastuti menyebut ada empat kelompok warga di Jakarta yang rawan terkena HIV/AIDS. Mereka adalah Pekerja seks komersial, laki-laki suka laki-laki (LSL), penggunaan narkoba melalui jarum suntik, dan waria.

Namun data terakhir penggunaan narkoba melalui jarum suntik mengalami penurunan, menjadi 43 persen. Sebelumnya, jumlah penderita HIV/AIDS akibat jarum suntik lebih dari 50 persen.

Hal ini berbanding terbalik dengan dengan LSL yang meningkat tajam. Berdasarkan penelitian dari Survei Terpadu Biologis dan Perilaku tahun 2015, jumlah penderita HIV/AIDS akibat LSL meningkat yang sebelumnya berkisar delapan persen lalu berlipat ganda menjadi 30 persen.

"Meningkat tajam. Tapi tetap penderita karena jarum suntik lebih banyak. Tapi trennya mengalami penurunan," ujar dia.

Ia menyampaikan, Kemenkes RI dan Dinas Kesehatan DKI bertekad memutus mata rantai penularan virus HIV/AIDS dari ibu ke anak. Caranya, lanjut dia, dengan tes Entry Infrant Diagnosis (EID) pada janin berumur kurang dari dua minggu.

"Kalau ibunya beresiko terkena HIV/AIDS kami langsung kasih obatnya. Itu untuk menekan agar anak tidak tertular," tutur Widyastuti.

Mantan Sudin kesehatan Jakarta Barat itu menyampaikan, kemungkinan anak terkena HIV/AIDS di bawah dua persen bila ibu calon bayi itu rutin meminum obat. "Obatnya gratis. Warga bisa memeriksa dan mendapatkan obat di setiap kecamatan," ungkapnya.


(ALB)