Penyakit Kencing Tikus Paling Marak di Jakarta Barat

Nur Azizah    •    Rabu, 19 Oct 2016 19:12 WIB
hama tikus
Penyakit Kencing Tikus Paling Marak di Jakarta Barat
Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Widyastuti. Foto: MTVN/Nur Azizah

Metrotvnews.com, Jakarta: Jakarta Barat menjadi wilayah paling rawan terjangkit penyakit yang disebabkan kencing tikus. Selain permukiman padat, wilayah itu kerap dilanda banjir.
 
Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Widyastuti mengatakan, leptospirosis menjadi penyakit tikus yang paling banyak terjadi di Jakarta. "Kalau penyakit pes enggak ada di Jakarta. Di sini, hanya ada leptospirosis," kata Widyastuti di Gedung Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Jalan Kesehatan, Jakarta Pusat, Rabu (19/10/2016).
 
Ia mengungkapkan, jumlah kasus leptospirosis di Ibu Kota pada 2014 mencapai 96 kasus, angka itu menurun pada 2015 yang hanya terjadi 25 kasus. Namun, penyakit yang memiliki gejala awal seperti demam itu kembali meningkat tahun ini, dengan jumlah 40 kasus.
 
"Dari 2014 hingga 2016, daerah yang paling banyak penderita leptospirosis ada di Jakarta Barat," ujarnya.
 
Widyastuti mengungkapkan, Jakarta Barat merupakan daerah rawan banjir. Penyebaran penyakit kencing tikus mudah tersebar melalui kontak kulit dan makanan yang tercemar.
 
"Saat banjir, kencing tikus dan bakteri di dalamnya mudah menyebar. Penyakit ini bisa menyebabkan kematian bila tidak ditangani cepat dan tepat," ujarnya.
 
Kepala Dinas Kesehatan DKI Koesmedi Priharto mendukung gerakan basmi tikus (GMT) yang digagas Wakil Gubernur DKI Djarot Saiful Hiadyat. Ia siap bila diikutsertakan dalam gerakan tersebut.
 
"Kalau diintruksikan kami siap. Program ini tujuannya perbaikan, ya bagus," kata Koesmedi.


 
Kendati mendukung, ia mengaku, belum mendapat informasi dan instruksi dari Pemrov DKI. "Belum ada informasi yang masuk ke sini. Belum ada kordinasi," ujar Koesmedi.
 
Ketua RT 13 RW 04 Tanah Abang, Jakarta Barat, Sugandi, mengaku selalu menangkap dua ekor tikus tiap malam. "Saya pakai perangkap yang terbuat dari besi. Satu malam bisa dapat dua," kata Sugandi.
 
Sugandi mengungkapkan, tikus yang didapat tidak dibunuh, tetapi dibuang ke lapangan dekat rumahnya. "Saya buang di depan (lapangan). Kalau mau dibunuh kasihan," kata berusia 65 tahun itu.
 
Hal serupa diungkap Ketua RT 06 RW 04 Tanah Abang, Khairul. Tiap haris tikus berkeliaran di rumahnya, seperti loteng, got, dapur, dan tempat sampah. Ia menggunakan racun tikus untuk mengurangi binatang pengerat itu.
 
Lingkungan Khairul menjadi salah satu sarang tikus. Sebab, permukiman itu padat dan kumuh.
Bangunan rumah berdempetan dan lebar jalan hanya satu meter.
 
Kesan kumuh terlihat dari banyaknya saluran air yang tertutup sampah. Airnya berwarna hitam dan bau.
 
Sebelumnya, Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat meminta seluruh lurah di Jakarta mengkampanyekan GBT. Tiap warga yang berhasil menangkap tikus akan diberikan imbalan Rp20 ribu per ekor. "Nanti lurah yang hitung. Dapat berapa kami bayar," kata Djarot, Selasa 18 Oktober.
 
Pemprov DKI pernah membasmi tikus di Gedung Blok G Balai Kota. Biayanya tak murah, Rp200 juta.
 
"Pak Djarot juga kemarin mengajukan anggaran Rp10 juta untuk lantai 6. Tapi, kita terima Rp2 juta - Rp3 juta," kata Kepala Biro Umum DKI Agustino Darmawan, 20 Mei 2016.
 

(FZN)