Pengoperasian Koridor 13 Molor Lagi

Yanurisa Ananta    •    Selasa, 20 Jun 2017 08:42 WIB
transjakarta
Pengoperasian Koridor 13 Molor Lagi
Koridor 13. Foto: Antara/M. Iqbal

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengoperasian armada Trans-Jakarta koridor 13 dipastikan molor lagi. Pada awalnya, uji coba pengangkutan penumpang direncanakan pada 12 Juni. Sementara itu, pada HUT ke-490 DKI 22 Juni, koridor jurusan Tendean-Ciledug itu ditargetkan beroperasi penuh.

Namun, kemarin Pemprov DKI Jakarta memastikan pengoperasian baru akan dilakukan pada 17 Agustus. Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menginstrusikan PT Transportasi Jakarta (Trans-Jakarta) untuk menunggu surat laik fungsi (SLF) konstruksi jalan layang (elevated) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebelum beroperasi (hard launching).

"Trans-Jakarta bilang masih bisa dilakukan (pengoperasian), saya bilang tidak. Jangan dulu, tunda dulu karena SLF dari Kementerian PU-Pera belum turun sehingga tanggal 22 belum bisa diresmikan," tandas Djarot seusai rapat pimpinan di Balai Kota, kemarin.

Pemprov, ujar Djarot, ingin memastikan daya tahan jalan layang yang membentang sepanjang 9,3 km tersebut. SLF akan diterbitkan Kementerian PU-Pera yang berkoordinasi dengan Dinas Bina Marga DKI dalam pemeriksaan kelaikan.

"Setelah itu kita bisa soft launching. Nanti hard launching pada 17 Agustus saja sekaligus Simpang Susun Semanggi agar cepat terintegrasi," imbuh Djarot.

Meski demikian, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Andri Yansyah masih mengaji kemungkinan soft launching bisa dilakukan segera.

"Nanti kita koordinasi dengan Kementerian PU-Pera, sambil menunggu SLF bisa enggak kita soft launching? Nah saat itu bisa tidak kita angkut penumpang? Tergantung arahan mereka," imbuhnya.
TransJakarta koridor 13. Grafik MI

Saat dimintai konfirmasi secara terpisah, Direktur Utama Trans-Jakarta Budi Kaliwono menyatakan bisa saja koridor 13 beroperasi pada 22 Juni meski pelayanannya masih terbatas.

Misalnya, waktu operasi hanya bisa dilakukan dari pukul 05.00 WIB sampai 17.00, bukan pukul 23.00 seperti jadwal normal yang direncanakan. Hal itu karena sarana penerangan belum tersedia.

"Akan tetapi, kami bisa tanggulangi dengan pelayanan terbatas. Namun, tadi Pak Gubernur berkeras tidak akan mengoperasikan sebelum SLF ada," kata Budi.

Baca: TransJakarta Koridor 13 Belum Memiliki Sertifikat Laik Fungsi

Guru Besar Transportasi Universitas Tarumanagara Leksmono Suryo menilai rekomendasi dari Kementerian PU-Pera berupa SLF sangat penting untuk memastikan jalan layang itu sudah memenuhi standar konstruksi.

"Harus dipastikan tidak ada bagian yang runtuh sehingga menyebabkan ketidakseimbangan kemudi. Lalu karena jalan layang berada di atas bangunan yang sudah eksisting, harus dicek apakah menimbulkan polusi udara atau suara," paparnya.

Belum siap

Koridor 13 yang terdiri dari 12 halte sebelumnya sudah menuai kritik karena sejumlah fasilitasnya belum siap menjelang target pengoperasian. PT Trans-jakarta mengakui pembangunan fasilitas koridor tersebut belum rampung total.

Kepala Badan Pengadaan Barang dan Jasa DKI Jakarta Blesmiyanda mengatakan pemenang lelang proyek lampu senilai Rp17,5 miliar PT Gemavirta Abadi sudah diumumkan sejak 5 Mei 2017. Namun, fasilitas penerangan belum terpasang hingga kini.

Baca: BPTJ: Jalur TransJakarta Koridor 13 Masih Perlu Pembenahan

Di lokasi halte pemberhentian, hanya tampak sejumlah tiang penyangga lampu. Di ruas jalan, tanda pengingat kecepatan (speedtrap) juga belum terpasang. Di bagian halte, proyek lift masih di tahap tender.

Padahal, sejumlah halte seperti Halte JORR, Pasar Kebayoran Lama, Velbak, dan Jalan Trunojoyo dipastikan perlu dilengkapi lift karena tingginya mencapai 20 meter. Loket halte pun diakui PT Trans-Jakarta perlu revisi karena salah pasang. (J/-4)




(UWA)