63.702 Anak di DKI Sudah Divaksin Serviks Gratis

Nur Azizah    •    Senin, 28 Nov 2016 15:36 WIB
kanker serviks
63.702 Anak di DKI Sudah Divaksin Serviks Gratis
Seorang perempuan melintas di depan layar saat sosialisasi Kanker Serviks (kanker leher rahim) di Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Jumat (29/7/2016). Foto: Antara/Rahmad

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebanyak 62.702 anak perempuan di DKI Jakarta telah menerima vaksin Human Pamillomavirus (HPV). Vaksin kanker serviks itu diberikan melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) pada bulan Oktober lalu.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi menjabarkan, sebanyak 5.905 anak perempuan di Jakarta Pusat telah diberikan vaksin HPV. Sementara di Jakarta Utara mencakup 9.910 anak, Jakarta Barat 13.599 anak, dan Jakarta Selatan 13.614 anak.

Adapun di Jakarta Timur 20.475 dan Kepulauan Seribu 199 anak sudah diberi vaksin kanker serviks. "Program ini baru diadakan di Jakarta. Kami berharap program ini bisa menjadi program imunisasi nasional," kata Koesmedi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (28/11/2016).

Sementara itu, Satgas Imunisasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, Yose Batubara menuturkan, pemberian vaksin menyasar anak kelas lima sekolah dasar. Alasannya, pemberian vaksin pada anak di bawah usia 15 tahun lebih efektif dan murah.

"Karena hanya perlu memberikan satu dosis. Selain itu, perkawinan anak usia 15 sampai 24 tahun sangat tinggi mencapai lebih dari 60 persen," kata Yose.

Menurutnya, pemberian vaksin pada anak di bawah usia 15 tahun bisa melindungi anak yang menikah di usia dini. Ia menyampaikan, vaksin HPV tidak memiliki dampak apapun.

"Tidak menyebabkan menopause. Jadi tidak usah khawatir," lanjutnya.

Kanker serviks menjadi penyakit mematikan kedua bagi wanita di Indonesia. Setidaknya, ada 33 wanita meninggal setiap harinya karena virus Human Pamillomavirus.

Sebanyak 67 negara telah memasukan vaksinasi serviks sebagai program nasional. Bahkan, Amerika Serikat dan Australia sudah menerapkan program tersebut sejak 10 tahun lalu. Sementara Indonesia baru memulai program ini pada Oktober kemarin.


(MBM)