Sampah Dapur Menggempur Saluran Air Jakarta

Yanurisa Ananta    •    Sabtu, 01 Apr 2017 10:26 WIB
sampah jakarta
Sampah Dapur Menggempur Saluran Air Jakarta
Petugas Unit Pengelolahan Kebersihan (UPK) Badan Air DKI Jakarta mengangkut sampah yang menumpuk di Kali Gendong, Muara Baru, Jakarta, Kamis (17/3/2017). Foto: Antara/Atika Fauziyyah

Metrotvnews.com, Jakarta: Masyarakat Jakarta masih terbiasa membuang sampah ke saluran air. Kebiasaan itu terlihat dari besarnya volume sampah yang menyumbat saluran penghubung di lima wilayah kota.

Setiap hari, Unit Pengelola Kebersihan (UPK) Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengangkut sekitar 100 ton sampah dari saluran penghubung. Sampah-sampah tersebut menumpuk di saluran tersier (got permukiman), saluran sekunder (saluran penghubung di jalan raya), dan saluran primer (pintu air).

Sebanyak 3.895 petugas UPK Badan Air harus diterjunkan setiap harinya untuk membersihkan tumpukan sampah di pintu-pintu air. Dari 100 ton sampah yang menumpuk, kebanyakan limbah dapur.

"Ada sayuran, sampah plastik, kayu-kayu pepohonan, dan lain sebagainya," kata Kepala UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Junjungan Sihombing, kemarin.

Data Dinas Sumber Daya Air DKI menyebutkan Jakarta memiliki 1.119 saluran penghubung di lima wilayah kota. Sebanyak 760 saluran penghubung sudah dibersihkan. Sisanya 359 saluran penghubung belum tersentuh lantaran berada di permukiman padat penduduk.

"Kami kesulitan memasuki permukiman padat penduduk. Lokasinya antara lain sebagian Kecamatan Tanah Abang, Kali Gendong, atau Kramat Jati," imbuhnya.

Jumlah alat berat yang digunakan untuk membersihkan saluran sekunder dan primer juga masih kurang. Tahun ini akan ditambah 60 alat berat jenis ekskavator amfibi, ekskavator spider, dan pengangkut lumpur. Nantinya total alat berat yang dimiliki berjumlah 131 unit.

Penambahan aktivitas penduduk di Jakarta membuat volume sampah juga meningkat. Rata-rata per hari sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Bantar Gebang, Kota Bekasi, mencapai 6.500 ton-7.000 ton.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Isnawa Joga menyatakan telah berupaya mengurangi sampah dengan mencanangkan bank-bank sampah di tiap RT/RW. Saat ini telah ada 400 bank sampah di Jakarta.

Selain itu, pembangunan tiga intermediate treatment facility (ITF) di Sunter, Marunda, dan Cilincing akan mengurangi 2.200 ton sampah per hari.

Pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Joga melihat volume sampah diperparah budaya masyarakat yang belum terbiasa membuang sampah pada tempatnya.

"Sudah ada dua aturan yakni Perda Nomor 8/2007 tentang Ketertiban Umum dan Perda Nomor 3/2013 tentang Pengelolaan Sampah. Namun, kesadaran masyarakat sangat minim. Mereka tidak merasa bersalah ketika membuang sampah sembarangan," kata Nirwono.

 


(UWA)