Keluhan Sopir Truk Pengangkut Sampah di Bantargebang

Ilham wibowo    •    Selasa, 18 Oct 2016 12:45 WIB
tpst bantar gebang
Keluhan Sopir Truk Pengangkut Sampah di Bantargebang
Unit Pengolahan Sampah Terpadu (UPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat--Metrotvnews.com/Ilham Wibowo

Metrotvnews.com, Jakarta: Unit Pengolahan Sampah Terpadu (UPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, kembali menyedot perhatian publik. Truk sampah yang berasal dari Jakarta harus mengantre mencapai 12-16 jam.

Pantauan Metrotvnews.com, Selasa (18/10/2016), antrean truk sudah terjadi sejak sekitar satu kilometer sebelum masuk empat zona di UPST Bantargebang. Truk mengular hingga ke bibir area pembuangan sampah.

Para sopir truk mengaku, antrean terjadi karena proses bongkar sampah di UPST lelet. "Kejadian sudah lumayan lama, mungkin sejak pergantian pengelola," kata Jamal, 35, sopir truk, kepada Metrotvnews.com, Selasa (18/10/2016).

Jamal sudah nongkrong di Bantargebang, sejak kemarin. Dia berangkat membawa sampah dari Slipi, Jakarta Barat, pada pukul 20.00 WIB. Setelah 14 jam, barulah dirinya bisa keluar dari titik pembuangan di zona 1. "Nginep, tidak bisa tidur karena mesti bergerak perlahan," ujarnya.

Antrean truk pengangkut sampah di Bantargebang--MTVN/Whisnu

Warga Kemaggisan, Jakarta Barat, ini menuturkan, lamanya antrean di UPST tak sebanding dengan proses pengemasan sampah dan waktu tempuh perjalanan. Menurut dia, semacet-macetnya jalan, paling telat tiga jam sampai Bantargebang. "Harus pinter-pinter cari waktu luang buat istirahat."



Keluhan sama disampaikan Peri, 30. Ia mengaku, mesti menunggu 16 jam untuk sampai dan bongkar sampah di UPST. Menurut dia, kondisi ini sudah berlangsung sekitar dua bulan. "Dulu paling lama empat jam, kalau sekarang mah enggak bisa ditentukan," ucapnya.

Peri berkeluh-kesah, akibat kondisi ini dirinya sering diprotes sang istri karena acap telah sampai di rumah. "Pernah saya bawa istri ke UPST, supaya tahu kondisinya seperti apa," kata pria berseragam oranye ini.

Putu, 27, sopir truk lain, mengaku terpaksa mengeluarkan uang lebih untuk operasional lantaran kejadian ini. Pengeluaran lebih itu untuk makan dan tips kru pencuci truk.

Putu mengatakan, bukan satu dua kali menombok. Duit tombokan ditutup dari gajinya sebagai pegawai harian lepas (PHL) DKI Jakarta. Putu diupah Rp3,1 juta per bulan.

"Enggak boleh terima selain gaji sekarang, banyak polisi khusus yang jaga. Ketahuan nakal sedikit bisa dipecat kita," ucapnya.

Baca: Ahok Heran Antrean Truk Ada Lagi di Bantargebang

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengaku heran, sejak pengelolaan dipegang Pempov DKI, kenapa sampai ada antrean di Bantargebang, Bekasi. Padahal, saat masih dikelola PT Godang Tua Jaya, jarang terjadi antrean truk.

"Saya curiga, dulu truk enggak pernah masuk Bantargebang. Jangan-jangan ambil sampah buangnya di hulu Ciliwung," kata Ahok.

Baca: Swakelola Bantargebang, Ahok Sanggupi Beli 100 Alat Berat



Pemprov DKI kini memang mengelola langsung sampah warganya. DKI menyetop kerja sama dengan PT Godang Tua Jaya (jo) PT Navigat Organic Energy Indonesia per Selasa, 19 Juli 2016. Perusahaan itu dianggap wanprestasi.


(YDH)