Cerita Alay, Bangga Meski Dianggap Berbeda

Nelly Marlianti    •    Kamis, 10 Mar 2016 08:53 WIB
kehidupan
Cerita Alay, Bangga Meski Dianggap Berbeda
Penonton bayaran atau yang lebih dikenal dengan sebutan alay. Foto: MI/Immanuel Antonius

Metrotvnews.com, Jakarta: Sekelompok remaja dengan dandanan berbeda dari remaja seusianya bergerombol di suatu tempat. Pakaian dan aksesori yang mereka kenakan biasanya berwarna kontras.

Misalnya, kaus oblong dan celana pensil warna gelap dipadukan dengan topi warna ngejreng. Dengan sekali lihat, sebagian masyarakat dapat mengidentifikasi kelompok tersebut.

Orang-orang yang ada di kelompok ini menyebut mereka sebagai alay. Ada yang menyebut alay merupakan kependekan dari anak layangan atau anak lebay.

Dandanan alay laki-laki umumnya dengan model rambut emo dan punk rock yang terlihat nangung. Alay perempuan kebanyakan berrambut panjang terurai dilengkapi topi dan wajahnya ber-make up.

Tidak sulit menemukan kaum alay di Ibu Kota. Saat ini, di hampir setiap wilayah banyak remaja yang mengikuti tren alay.

Di stasiun, di Bus TransJakarta, di pinggir jalan, di depan sekolah, di area car free day, di acara konser musik, hingga pertunjukan musik di beberapa stasiun televisi, ada remaja alay.

Vicky, 15, murid kelas 3 SMP di Jakarta Timur, mengaku sebagai alay. Sekali  dalam sepekan, ia menyempatkan pergi bergerombol bersama 10 temannya.

Ia menonton acara konser band dan menjadi fan salah satu band. Dia dan teman-temannya sesama anak alay juga memiliki band.

"Kami juga punya band, saya vokalisnya. Biar enggak jelas, yang penting asyik," ujar Vicky.

Saat berbincang bersama teman sekelompoknya, Vicky menyelipkan kata-kata yang sukar dimengerti orang lain di luar kelompok mereka.

Penggunaan bahasa itu untuk menunjukkan bahwa mereka kekinian. Biasanya, Vicky berbicara bersama teman-teman sekelompoknya dengan intonasi yang agak keras dan pengucapannya terputus-putus.

Kata-kata yang diucapkan, antara lain eloh, gueh, kepo, baper, cukstaw, gece, dan masih banyak lagi.

"Sekarang memang bahasa gaulnya seperti ini. Semua anak-anak sekarang pasti tahu bahasa itu," jelasnya dengan nada bangga.

Vicky bangga saat berdandan dan memutuskan ikut kelompok alay. Ia mengaku bisa menunjukan diri yang sesungguhnya dengan rasa percaya diri.

Terkait pandangan masyarakat yang agak miring terhadap alay, menurut Vicky, itu hal biasa dan ia tidak peduli.

"Biarkan saja. Kalau kami sih enjoy saja. Ngapain dipikirkan, kan kami yang punya gaya," kata Vicky.

Dapat Penghasilan

Mita, 16, juga remaja alay, menuturkan bergaya alay justru menjadi sumber penghasilan. Dengan gaya alay, Mita dan teman-teman sering diundang meramaikan acara musik di stasiun televisi dengan jadi penonton.

Untuk satu episode tayangan musik di televisi, Mita dibayar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. "Kalau buat tampil di televisi memang butuh orang yang heboh, norak, dan tidak pemalu. Makanya yang dicari seperti kami ini (alay)," ujar Mita.

Bila sedang banyak permintaan, dalam sepekan ia bisa menghadiri tiga hingga empat acara di televisi. Uang dari meramaikan acara musik di televisi, Mita gunakan untuk bersenang-senang bersama alay lainnya.

"Lumayan, buat nongkrong dan jalan-jalan tidak harus minta ke mama," kata Mita.

Menurut Iskandar, alay lain yang akrab disapa Botak, untuk menjadi penonton bayaran di acara musik di televisi, ia dan rekan-rekannya sudah ada yang mengoordinasikan.

Setiap acara di televisi ada dua sampai tiga kordinator yang mengatur puluhan alay.

"Yang tampangnya cantik dan tampan, bayarannya berbeda. Agak mahal diamplopinnya. Tapi kalau yang pas-pasan seperti saya, paling mahal dibayar Rp50 ribu. Pernah juga tidak dibayar," ujar Iskandar.


(TRK)

KPK Diam-diam Sudah Periksa Ajudan Novanto

KPK Diam-diam Sudah Periksa Ajudan Novanto

1 day Ago

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diam-diam sudah memeriksa ajudan Setya Novanto, AKP Reza Pah…

BERITA LAINNYA