Penghuni Rusun Bidara Cina Kebanyakan Orang Mampu

Whisnu Mardiansyah    •    Kamis, 14 Sep 2017 18:47 WIB
penertiban
Penghuni Rusun Bidara Cina Kebanyakan Orang Mampu
Ilustrasi--Bidara Cina, Jalan Otista Raya, Jakarta Timur--Antara/Hafidz Mubarak A.

Metrotvnews.com, Jakarta: Rusunami Bidara Cina memiliki 688 unit hunian rusun yang tersebar di tujuh blok. Dari jumlah tersebut, 65 persen jumlah unit telah berpindah kepemilikan.

Sobari, 70, adalah salah satu generasi awal penghuni Rusunami Bidara Cina. Ia mengeluhkan rusun yang awalnya untuk warga golongan ekonomi kelas menengah ke bawah, kini justru dihuni orang-orang mampu.

"65 persen orang mampu yang tinggal di sini," kata Sobari kepada Metrotvnews.com di Rusunami Bidara Cina, Jalan Otista Raya, Jakarta Timur, Kamis 14 September 2017.

Sebagian penghuni awal sudah menjualnya kepada pihak ketiga. Pembelian tersebut hanya berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak tanpa akta jual beli.

Baca: Dinas Perumahan DKI akan Tertibkan Bangunan Rusun Alih Fungsi

Dia mempertanyakan apakah penghuni hanya sudah memegang Bukti Tanda Pemilikan Perumahan (BTPP), atau hanya sekadar Surat Penetapan Penunjukan Penghunian Penggunaan Perumahan (SP5). "Penghuni asli diberikan SP5, kalau sudah lunas baru dikasih BTPP," jelasnya.

Meli Budiastuti, Kepala Bidang Pembinaan dan Peran Serta Masyarakat DPGP, praktik jual/sewa di rusun dengan sistem milik tak dilarang. Namun, dengan syarat pemilik asli sudah melunasi harga unit rusun dan minimal telah menempati selama lima tahun.

"Kalau dia beralih dan menjual ke orang lain dengan harga yang lebih mahal dan meningkatkan kesejahteraannya itu tidak dilarang," jelas Meli.

Kata Meli, sistem Rusunami sama halnya dengan apartemen dengan sistem hal milik. Bedanya, penghuni hanya memiliki hak milik unit huniannya saja. Sementara, status tanah masih dikuasasi Pemda.

Namun, ia menggarisbawahi praktik jual beli rusun tak berlaku di rumah susun dengan sistem sewa atau Rusunawa. Lantaran pemerintah sudah mensubsidi pembayaran sewanya. "Disewakan boleh-boleh saja. Ini Rusunami kalau Rusunawa itu pelanggaran berat," pungkasnya.


(YDH)