Sosiolog: Masyarakat Jangan Takut Laporkan Kasus Paedofil

   •    Senin, 08 Jan 2018 16:24 WIB
paedofilkekerasan seksual anak
Sosiolog: Masyarakat Jangan Takut Laporkan Kasus Paedofil
Pengamat Sosial Devie Rahmawati. (Foto: MI/Arya Manggala)

Jakarta: Sosiolog Devie Rahmawati menyebut data secara global mengungkapkan bahwa seorang paedofil bisa melakukan kekerasan seksual terhadap sekitar 200 anak. Sayangnya yang terungkap maupun yang dilaporkan hanya sebagian kecil dari itu.

Faktanya, kata Devie, masyarakat barat yang tingkat pendidikannya jauh lebih tinggi pun dalam kebanyakan kasus kejahatan seksual masih enggan melapor. Hal ini jugalah yang menjadi problem di Indonesia.

"Karena paedofil ini adalah sosok yang dipercaya. Modus yang mereka lakukan bukan mengincar anak dulu tetapi mendapatkan kepercayaan publik khususnya orang tua," katanya, dalam Selamat Pagi Indonesia, Senin 8 Januari 2018.

Kepercayaan yang ditanamkan pelaku kepada orang tua calon korban akan membuatnya leluasa melakukan kejahatan. Paedofil yang umumnya berasal dari orang-orang dekat di lingkungan korban meminimalisasi potensi kecurigaan itu dengan perilaku yang wajar-wajar saja.

Terbiasa berinteraksi dengan anak-anak membuat pelaku mudah menutupi kecurigaan orang lain akan potensi kejahatan seksual yang akan dilakukan. Ketika hal itu terjadi orang tua cenderung menganggap biasa saja sehingga enggan melapor.

"Maka ketika kepolisian bersikap terbuka dan siapa saja yang mengadu akan diproses akan menumbuhkan rasa percaya diri orang dewasa khususnya orang tua untuk melaporkan ini," katanya.

Meskipun korban dalam setiap kasus kekerasan seksual terhadap anak tidak diharapkan bertambah, namun Devie meminta agar orang tua yang merasa anaknya berperilaku lain dan diduga juga menjadi korban agar tak takut melapor.

Laporan yang disampaikan selain membantu anak untuk memulihkan kepercayaan diri dan menyembuhkan trauma yang mungkin dialami, juga untuk menekan potensi anak menjadi pelaku di kemudian hari.

Menurut Devie, boleh jadi saat ini mereka tak merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda usai menjadi korban kejahatan seksual. Namun di sinilah poin kritisnya.

"Apakah di kemudian hari mereka akan melakukan hal yang sama seperti yang mereka alami sekarang atau tidak," ungkapnya.

Devie mengatakan yang dibutuhkan anak-anak korban kekerasan seksual bukan hanya trauma healing sesaat setelah peristiwa terjadi dan terungkap. Namun harus dilakukan terus menerus bahkan jika memungkinkan hingga mereka dewasa.

Ia menilai terapi psikologis tetap harus diberikan kepada siapapun yang menjadi korban kekerasan seksual, termasuk mereka yang sudah dewasa. Hal ini untuk mencegah mereka yang sudah memiliki orientasi sebagai korban kejahatan seksual tidak melakukan lebih jauh termasuk menyakiti diri sendiri dan orang lain.

"Kita punya banyak kampus yang memiliki jurusan psikologi, bisa membantu. Artinya terapi psikologis itu ketika merasa ada sesuatu yang berbeda mereka tahu kemana mengadu dan meminta pertolongan selain pertolongan hukum," jelasnya.




(MEL)

KPK Tunggu Pemberitahuan Praperadilan Fredrich

KPK Tunggu Pemberitahuan Praperadilan Fredrich

5 hours Ago

Hingga kini KPK masih fokus menuntaskan proses penyidikan kasus merintangi perkara korupsi KTP-…

BERITA LAINNYA