Sandi Tanggapi Ancaman Warga Depok yang Ingin Pindah ke DKI

Nur Azizah    •    Kamis, 11 Jan 2018 13:28 WIB
pendidikan
Sandi Tanggapi Ancaman Warga Depok yang Ingin Pindah ke DKI
Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. Foto: Antara/Rosa Pangabean.

Jakarta: Ribuan warga di 70 RT Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, mengancam akan bergabung ke Pemprov DKI Jakarta. Ancaman itu untuk mendesak Pemkot Depok segera membangun Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 23.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno tak mau berkomentar banyak terkait ancaman warga Depok. Ia mengatakan Anies-Sandi berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan hingga tuntas.

"Kita ingin pendidikan tuntas berkualitas, tapi di wilayah DKI. Kalau di luar DKI bukan kewenangan kita," kata Sandi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis, 11 Januari 2018. 

Baca: Warga Depok Ancam Pilih Bergabung ke DKI

 
Bila warga Depok ingin bergabung, Sandi mengatakan harus mendapatkan keputusan Kementerian Dalam Negeri dan DPR RI. Dengan begitu, Sandi bisa mengikuti apa yang diperintahkan.

"Itu di Kemendagri dan tentu DPR harus memutuskan, kita mengikuti apa saja yang undang-undang sudah berikan ke kita," ungkapnya.

Ribuan warga Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok mengultimatum akan bergabung ke Provinsi DKI Jakarta jika sekolah tidak cepat dibangun.

"Kami sudah bersepakat untuk menggabungkan diri dengan Provinsi DKI Jakarta jika gedung SMPN 23 tak dibangun secepatnya," ungkap Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kecamatan Cimanggis Jayadi, Rabu, 10 Januari 2018.

Ancaman pemisahan diri warga Kelurahan Harjamukti tersebut sudah dikonsultasikan bersama 70 pengurus RT dan 15 RW di lingkup kelurahan tersebut.

Jayadi mengaku ultimatum itu sudah dia sampaikan kepada Camat Cimanggis Henri Mahawan. Ultimatum diputuskan karena kekecewaan warga melihat siswa yang harus menumpang belajar di sekolah lain.
 
Saat ini ada 80 siswa SMPN 23 yang menumpang belajar di SMPN 11, Kelurahan Sukatani. Proses belajar mengajar tidak kondusif karena harus bergantian memakai ruang kelas.

Apalagi, lokasi SMPN 11 dengan Kelurahan Harjamukti sekitar dua kilometer. Para siswa SMPN 23 setiap hari pulang malam.

"Karena belajarnya mulai sore hari. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan. Hal itulah yang mendasari mereka berencana hengkang," ujar Jayadi.

Camat Cimanggis Henri Mahawan mengakui puluhan siswa SMPN 23 tiap hari pulang ke rumahnya malam hari. "Parahnya lagi, tak tersedianya angkutan umum ke SMPN 11, membuat orang tua siswa jadi waswas, khawatir terjadi tindak kriminal," ucapnya.


(YDH)