Warga Rusunawa Cibesel Ingin seperti Warga Kampung Aquarium

Media Indonesia    •    Kamis, 11 Jan 2018 12:09 WIB
rusunawapenggusuran luar batang
Warga Rusunawa Cibesel Ingin seperti Warga Kampung Aquarium
Ilustrasi Rusun Cibesel--Medcom.id/Ilham Wibowo

Jakarta: Penghuni Rumah Susun Sewa Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, berasal dari berbagai warga gusuran di Jakarta. Mereka ada yang dari warga gusuran Waduk Pluit, Jakarta Utara, juga warga Kampung Melayu, Jakarta Timur, dan Bukit Duri, Jakarta Selatan, yang terkena dampak normalisasi Sungai Ciliwung.

Dari penuturan sejumlah warga di sana, umumnya mereka ingin kembali ke tempat asal. Namun, apa daya, rumah mereka sudah rata dengan tanah, lahannya pun sudah dibangun jalan dan beberapa sudah menjadi bagian dari Sungai Ciliwung.

Suka atau tidak, kini mereka mulai menikmati tinggal di Rusunawa Cipinang Besar Selatan (Cibesel). 

Beberapa dari mereka mengaku iri dengan apa yang terjadi pada Kampung Aquarium yang ditata ulang Gubernur Anies Baswedan. Mereka berharap bisa menikmati kebijakan serupa, meski tidak sama. Seperti memiliki unit rusun yang ditempatinya saat ini.

Baca: Warga Sukacita Menduduki Kampung Akuarium

 
Namun, mereka menyadari bahwa tidak ada kekuatan menentang kebijakan pemerintah yang sudah ditetapkan.

"Balik ya mau, enak ya pasti di rumah sendiri, tapi untuk apa balik. Wong rumah saya sudah enggak ada, sudah digusur," Kata Abas, 51, warga gusuran Waduk Pluit yang mendiami Rusunawa Cibesel mulai Senin, 8 Januari 2018.

Dari sisi ekonomi, diakui Abas, penghasilannya saat berdagang kelontong di Waduk Pluit lebih menguntungkan daripada berdagang di Rusunawa Cibesel.

Baca: Penataan Kampung Akuarium Rampung Bulan Depan
 
Kebanyakan warga korban penggusuran pada akhirnya membuka kios di rusunawa dan pembelinya pun hanya seputar warga yang tinggal di sana.

Sebaliknya saat di Waduk Pluit, posisi penjualannya stategis, banyak orang lalu lalang dan membeli di warungnya.

Abas berharap bisa dipindahkan ke rumah susun sederhana milik (rusunami) agar pada akhirnya mempunyai hak kepemilikan aset atas tempat tinggal yang ia diami.

Meski bayar sewanya terbilang murah, ia lelah membayar uang sewa sepanjang hayatnya. "Ya di sini bayar sewa terus, kapan kita punya rumahnya. Kalau sudah enggak bisa jualan lagi, kami enggak punya apa-apa untuk hidup. Saya ingin punya aset sendiri," tandasnya.

Senada dengan Abas, Ana, 30, warga Rusunawa Cibesel lainnya, mengaku ia dan suaminya jika diberikan kesempatan Pemprov DKI untuk memilih, akan kembali ke tempat asal di kawasan Waduk Pluit.

Apalagi mengingat suaminya yang setiap hari harus berangkat pukul 05.00 WIB dari Cibesel ke tempat kerjanya di Pluit agar datang tepat waktu. "Lebih dekat dengan tempat kerja bapaknya anak-anak," ujar Ana.

Menurut Ana, tidak ada guna untuk menyuarakan aspirasi jika hanya ia saja yang bergerak. Penghuni lainnya terlihat pasrah dan menerima kebijakan dari Pemprov DKI.

Salah satunya Hendro, 45, warga gusuran Kampung Melayu, Jakarta Timur. Dia menerima pemindahan keluarganya ke Rusunawa Cibesel pada 8 Januari 2018.

"Saya sih terima kebijakan pemerintah ini, saya percaya ini untuk kemajuan rakyat Jakarta semua," kata Hendro.

Hendro memiliki harapan yang sama dengan Abas, bisa memiliki unit rusun yang ditempatinya saat ini. Tidak seperi saat ini hanya menyewa.



(YDH)

KPK Diam-diam Sudah Periksa Ajudan Novanto

KPK Diam-diam Sudah Periksa Ajudan Novanto

2 days Ago

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diam-diam sudah memeriksa ajudan Setya Novanto, AKP Reza Pah…

BERITA LAINNYA