Djarot: Sahur On The Road Rawan Kejahatan

Nur Azizah    •    Minggu, 18 Jun 2017 20:13 WIB
djarot saiful hidayat
Djarot:  Sahur <i>On The Road</i> Rawan Kejahatan
Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat saat memperingati Hari Lahir Pancasila. Foto: MTVN/Nur Azizah.

Metrotvnews.com, Jakarta: Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat kembali menegaskan untuk tidak menyalahgunakan kegiatan sahur on the road (SOTR). Menurutnya, SOTR tidak membawa manfaat.

Djarot menuturkan, SOTR jauh dari makna sahur bersama. Bahkan, tak sedikit kegiatan SOTR malah diwarnai bentrokan, kecelakaan, dan balapan di jalan.

"Aku sudah bilang berkali-kali, jangan sahur on the road seperti itu. Rawan kejahatan, marak geng motor. Mana sahurnya?" Kata Djarot di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Minggu 18 Juni 2017.

Djarot melarang kegiatan sahur di jalan lantaran rawan kecelakaan. Dia mengklaim sejak imbauan itu disosialisasikan SOTR sudah mulai berkurang. Kendati sudah melarang, namun masih ada yang menyalahgunakan kegiatan tersebut. Semalam, sejumlah remaja di Taman Sari, Jakarta Barat diamankan polisi lantaran membawa sejumlah senjata tajam.

Djarot menyerahkan insiden tersebut kepada pihak berwajib. Mantan Bupati Blitar ini pun tak memiliki rencana untuk memberi hukuman bagi peserta SOTR yang berstatus pelajar.

"Serahkan pada polisi. Dinas Pendidikan enggak (beri hukuman). Kita jangan cari-cari kesalahan lah. Biar polisi saja," pungkas Djarot.

Peserta SOTR yang kedapatan membawa senjata tajam, Minggu 18 Juni 2017 dini hari bisa diproses secara hukum. Peserta SOTR bersenjata tajam juga sangat mungkin ditahan.

"Kalau senjata tajam kena UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951. Kalau memang tidak terbukti bisa dipulangkan," Kasubag Humas Polres Jakarta Barat, Kompol Purnomo kepada Metrotvnews.com, di Polres Jakarta Barat, Jalan Letjen S. Parman, Slipi, Jakarta Barat.

Dalam UU Darurat Pasal 2 ayat 1 dikatakan, 'Barang siapa yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperolehnya, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata pemukul, senjata penikam, atau senjata penusuk(slag-, steek-, of stootwapen), dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.'

Purnomo mengatakan, lama pengamanan tergantung pengembangan informasi yang dilakukan. "Itu dikembangkan dapat dari mana, kalau tajam pasti kena, buat nodong atau buat apa," jelas dia.

Sebelumnya, Twitter TMC Polda Metro Jaya (@TMCPoldaMetro), sekitar pukul 01.50 WIB, melansir pihak kepolisian menghentikan rombongan peserta SOTR di Jalan Gajah Mada. Polisi mengamankan sejumlah peserta SOTR yang kedapatan membawa senjata tajam di antaranya celurit. Polisi juga menyita umbul-umbul bambu yang dibawa peserta.


(Des)

Selamatkan Partai, Novanto Diminta Tempuh Praperadilan

Selamatkan Partai, Novanto Diminta Tempuh Praperadilan

2 hours Ago

Status tersangka Novanto dinilai akan memengaruhi partai dalam kontestasi politik yang akan dat…

BERITA LAINNYA