Rasa Cemas Menghantui Sopir Koridor 13

Nur Azizah    •    Rabu, 11 Oct 2017 14:03 WIB
transjakarta
Rasa Cemas Menghantui Sopir Koridor 13
Bus Transjakarta Koridor 13 Tendean-Ciledug melintas saat dilakukan uji coba angkut penumpang di Jakarta, Minggu (13/8/2017). Foto: MI/Arya Manggala

Metrotvnews.com, Jakarta: Menjadi pengemudi TransJakarta koridor 13 tak selamanya menyenangkan. Ada beberapa hal yang membuat mereka khawatir.

Dwi Haryono, bercerita soal pengalamannya selama menjadi pengemudi TransJakarta jurusan Tendean-Ciledug. Ia sering kali dihadapi rasa was-was ketika keluar atau masuk halte Adam Malik, Ciledug.

Sebab, ia harus melewati jalan sempit dan bercampur dengan kendaraan lainnya. Rasa was-wasnya bertambah saat berhadapan dengan pengendara yang kurang beretika.

"Tiba-tiba ada kendaraan nyelonong dari samping. Walaupun sudah ngerem kan enggak bisa langsung berhenti," cerita Dwi kepada Metrotvnews.com, Jakarta, Rabu, 11 Oktober 2017.

Peristiwa itu sering terjadi dibeberapa titik. Sayangnya, tidak ada petugas dari TransJakarta yang mengatur itu.

"Ya seharusnya ada petugas patroli dari sini (TransJakarta) yang mengatur. Setidaknya di titik-titik ramai dan di putaran," ujar dia.

Baca juga: Hari Ini Transjakarta Gratiskan Layanan Koridor 13

Ia juga mengeluhkan soal fasilitas tempat ibadah. Dwi menyampaikan, baik di halte Ciledug, maupun halte Tandean tidak ada tempat ibadah.

"Setidaknya adalah tempat kecil untuk dua orang saja. Kami kesulitan untuk mencari tempat untuk salat," tuturnya.

Selama hampir dua bulan mengendarai TransJakarta, Dwi tak pernah mengalami kesulitan berarti. Meski harus memacu kendaraannya di jalan setinggi 23 meter.

"Kalau goyang enggak ada. Yang jadi masalah ya cuma penerangan saja sih. Sama kalau siang itu silau banget kan. Sementara kita enggak boleh pakai kacamata (hitam). Jadi ganggu banget," cerita Dwi.

Kendala baru muncul saat malam hari. Sebab, jalan sepanjang 9,3 kilometer itu belum dipasang lampu penerangan secara sempurna.  

"Pandangan kita kan terbatas kalau malam hari. Enggak leluasa melihatnya. Jadi harus ekstra hati-hati banget. Ya siang pun kita juga harus tetap hati-hati," kata Dwi Haryono.

Baca juga: TransJakarta Koridor 13, Ciledug ke Tendean Hanya 25 Menit

Untuk menjaga keselamatan penumpang, Dwi selalu patuh dengan aturan. Dia tidak pernah menancap gas lebih dari 40 kilometer per jam.

"Kita ikutin aturan saja biar semuanya selamat. Apalagi kan malam, belum ada lampu ya," ujar dia.

Dari 300 titik baru beberapa yang dipasang lampu penerangan. Pantauan Metrotvnews.com, jarak pemasangan lampu satu dengan lainnya cukup jauh. Lampu paling banyak dipasang di sisi kiri dari halte Adam Malik.

 


(MBM)