MRT, Cagar Budaya dan Modernisasi Ibu Kota

Intan fauzi    •    Jumat, 13 Oct 2017 17:02 WIB
mrt
MRT, Cagar Budaya dan Modernisasi Ibu Kota
Petugas melakukan pemasangan bantalan rel di Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta. Foto: Antara/Puspa

Metrotvnews.com, Jakarta: Proyek kereta mass rapid transit (MRT) fase II (Bundaran HI-Kampung Bandan) sudah disetujui DPRD DKI. Namun, pembangunan proyek senilai Rp22,54 triliun itu tak semudah fase I (Lebak Bulus - HI).
 
PT MRT Jakarta harus mematangkan Basic Engineering Design (BED) bersama konsultan. Sebab, rute fase II bersinggungan dengan bangunan cagar budaya yang dijaga undang-undang.
 
Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim, mengakui pengerjaan fase II tak semudah fase I. Rute itu melintasi Jalan Gajah Mada - Hayam Wuruk dan kawasan Kota Tua. Di sana berdiri puluhan bangunan cagar budaya.
 
“Masuk ke utara (fase II), semua yang orang tidak mau, ada di situ. Bangunan tua, cagar budaya, utilitas, kali. Ini jadi stres baru,” kata Silvia di Kantor MRT Jakarta, Gedung Wisma Nusantara, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu 11 Oktober 2017.

Baca: Proyek MRT Fase II Dimulai 2018

Tapi, PT MRT Jakarta sudah memiliki feasibility study yang menjadi dasar pembuatan BED. Tujuannya, untuk mengetahui kondisi tanah dan gedung sekitar.
 
PT MRT juga membandingkan metode pengerjaan pembuatan jalur MRT yang dilakukan di beberapa negara. Proses itu disebut benchmarking.
 
“Ini harus belajar ke negara yang sudah melakukan itu (penggalian proyek MRT di sekitar cagar budaya). Misal Kyoto, di sana ada MRT tapi istana-istana tetap selamat. Egypt, mereka lebih tua lagi, kemudian Istanbul Turki yang sama-sama kota tua,” jelas Silvia.

 

MRT Fase II Diawasi Disparbud DKI Jakarta
 
PT MRT Jakarta berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta untuk meminta arahan. Pembangunan bakal diawasi tim Disparbud DKI yang terdiri dari arkeolog, ahli cagar budaya, dan perguruan tinggi.
 
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Tinia Budiati, mengatakan, PT MRT Jakarta perlu memperhatikan struktur tanah dan daya dukung tanah. Jangan sampai getaran yang ditimbulkan merusak bangunan cagar budaya. “Karena cagar budaya lebih ringkih, fragile, dari bangunan baru,” kata Tinia.
 
Tinia belum mendata berapa banyak bangunan cagar budaya yang dilintasi proyek MRT.  Tim pengawas bakal memaksimalkan peta-peta kawasan Kota Tua yang sudah ada sejak zaman Belanda.
 
Pemerhati Kota Tua, Candrian Attahiyat, memiliki kekhawatiran proyek MRT berdampak pada bangunan cagar budaya. Pada 2006, pembangunan terowongan penyeberangan orang Halte TransJakarta Kota Tua mengakibatkan kerusakan pada bangunan Museum Bank Indonesia dan Bank Mandiri.
 
Candrian mengaku sudah bertemu PT MRT Jakarta, di pertemuan itu PT MRT Jakarta mengusulkan Stasiun MRT Kota terintegrasi dengan stasiun KRL Jakarta Kota.
 
“(Stasiun MRT) di bawah (gedung) BNI 46, nanti keluar masuknya dari Stasiun KRL Jakarta Kota,” kata Candrian.
 
Hal itu tak bisa dilakukan, karena tanah di bawah Gedung BNI 46 dan Stasiun Jakarta Kota sedikit riskan. Sebab, jalur MRT yang direncanakan melewati tembok kota Batavia.
 
“Di bawah itu ada tembok Kota Batavia yang pernah dibongkar tahun 1620-1650. Walaupun sudah dibongkar, tapi bawahnya kan enggak dibongkar. Pondasi bagian bawahnya kalau dijadikan terowongan bisa menyebabkan kerusakan struktur cagar budaya,” ujar Candrian.
 
Atas pertimbangan itu, PT MRT Jakarta menggeser letak stasiun ke arah selatan Stasiun Jakarta Kota. Tepatnya di Jalan Pintu Besar Selatan, Pinangsia, Jakarta Utara, persis dekat Gedung Bank DKI.
 
“Tapi keluar masuknya tetap dari Stasiun Jakarta Kota. Itu lebih aman,” kata Candrian.

Baca: Strategi PT MRT Mencari Tarif Sehati

Tim ahli cagar budaya belum mengetahui apa saja yang mungkin ditemukan di bawah tanah kawasan Kota Tua. Namun, bakal banyak sisa-sisa struktur bangunan sejarah.
 
“Dari pengeboran bisa dicek apakah ada peninggalan yang ikut tergerus, tapi di sekitar Kota Tua kemungkinan ada struktur bawah tanah dan bangunan sisa pondasi,” ujar Candrian.
 
Kendati demikian, Candrian menuturkan, bukan berarti tim ahli cagar budaya menentang pembangunan MRT Jakarta. Namun saat pengerjaannya perlu memperhatiakn aspek pelestarian.
 
“Jadi jangan sampai kita dikorbankan karena semata-mata pembangunan ini tapi jangan juga kepentingan cagar budaya menghambat pembangunan. Pembangunan silakan berjalan tapi tentunya dengan wawasan pelestarian,” tandas Candrian.




(FZN)