SMAN 42 Miliki 10 Persen Siswa Bina Lingkungan

Lis Pratiwi    •    Selasa, 18 Jul 2017 06:11 WIB
pendaftaran sekolah
SMAN 42 Miliki 10 Persen Siswa Bina Lingkungan
Suasana gerbang depan SMAN 42 Jakarta. MTVN/Lis Pratiwi.

Metrotvnews.com, Jakarta: SMA Negeri 42 Jakarta membenarkan adanya kuota khusus siswa bina lingkungan yang terdiri dari putra-putri Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Hal ini sebagai timbal balik karena sekolah berdiri di atas lahan milik AURI tanpa biaya sewa.

"Dari 288 kuota siswa baru, ada 30 orang bina lingkungan berarti sekitar 10 persen lebih ya," ujar Siti Muharyani, Wakil Bidang Kesiswaan SMAN 42 saat ditemui Metrotvnews.com di Jakarta Timur, Senin 17 Juli 2017.

Siti mengatakan, pemberian kuota khusus ini tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) antara dinas pendidikan DKI Jakarta dengan komandan lahan. Kendati sekolah dibangun sejak tahun 1971, namun perjanjian secara tertulis baru ada sejak tahun 2006.

Menurut Siti, jumlah kuota siswa bina lingkungan bisa berubah setiap tahun tergantung kesepakatan antara komandan lahan dengan dinas pendidikan. Sekolah hanya berfungsi sebagai pelaksana atas segala keputusan kedua belah pihak.

"Dulu kuotanya 10, lama-lama naik dan sudah dua tahun ini kuotanya 30 siswa, 25 kelas IPA, 5 kelas IPS. Pembagian untuk IPA dan IPS-nya juga berubah-ubah," jelas Siti.

Siti mengungkap, kuota khusus siswa bina lingkungan ini sudah menjadi rahasia umum. Pihak orangtua siswa pun tak pernah mempermasalahkan kebijakan ini. Pasalnya, kuota ini hanya sebagain kecil dari jumlah siswa yang diterima setiap tahunnya.

Selain SMAN 42, terdapat satu SMA lain di kompleks TNI AU, yakni SMAN 67. Menurut Siti, sekolah ini pun menerapkan kebijakan bina lingkungan bagi putra-putri AURI dengan kuota yang sama. Namun, kuota khusus ini tak terdapat di SDN Cipinang Melayu 01 Pagi yang juga tercantum dalam MoU dinas pendidikan dan AURI.

"Sama, karena kita rapatnya barengan waktu sama dinas untuk dijelasin soal kebijakan ini, ada SMP juga tapi saya kurang tahu kuotanya berapa, kalau SD nggak ada kayanya," ujarnya.

Susie juga menuturkan, seluruh tahapan seleksi siswa bina lingkungan dilakukan oleh pemilik lahan. Daftar nama siswa yang lolos akan dikirim ke dinas pendidikan agar mereka tak perlu masuk sistem PPDB online, lalu ditembuskan ke sekolah.

"Bukan nilai ujian karena seleksinya sudah dari bulan Januari, bisa jadi rapot atau mungkin ada pertimbangan lain," imbuh Siti.

Pernyataan Siti, sejalan dengan yang disampaikan Kepala Sekolah SMAN 39 Jakarta terkait adanya kuota bina lingkungan bagi sekolah tertentu. Bahkan, kuota bagi putra-putri Kopassus di SMAN 39 merupakan yang terbesar di antara SMA bina lingkungan lain yakni mencapai 30 persen dengan total 108 siswa.

Di Jakarta terdapat beberapa SMA Negeri yang menerapkan sistem bina lingkungan di antaranya, SMAN 42 dan SMAN 67 untuk putra-putri AURI, SMAN 39 untuk putra-putri Kopassus, SMAN 93 untuk putra-putri Paspampres, dan SMAN 71 untuk putra-putri TNI AL.

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Susie Nurhati membantah pernyataan adanya kuota khusus bagi siswa bina lingkungan. Bahkan, menurutnya hal tersebut melanggar Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas).

Susie hanya mengakui adanya MoU antara pemilik tanah dengan dinas pendidikan terkait pinjam pakai lahan sekolah. Namun, isi MoU hanya sebatas status tanah yang digunakan tanpa biaya sewa.

Seleksi siswa baru, menurut Susie juga harus berdasarkan nilai ujian nasional. Serta seluruh pendaftaran dilakukan secara online sesuai ketentuan dinas dan tidak boleh dilakukan oleh pihak lain, bahkan pemilik tanah sekalipun.

 


(DRI)

Yosef Sumartono Mengaku Tak Mengenal Setya Novanto

Yosef Sumartono Mengaku Tak Mengenal Setya Novanto

14 hours Ago

KPK memeriksa Mantan Staf Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dal…

BERITA LAINNYA