Pemprov DKI Libatkan Warga dalam Pembangunan TMB

Kumara Anggita    •    Sabtu, 01 Dec 2018 09:08 WIB
pemprov dkiTaman Maju Bersama
Pemprov DKI Libatkan Warga dalam Pembangunan TMB
Ilustrasi. Medcom.id/Mohammad Rizal.

Jakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan metode Focus Group Discussion (FGD) dalam pembangunan Taman Maju Bersama (TMB). FGD dianggap lebih efektif untuk menampung aspirasi rakyat.

"Jadi di focus group discussion kita langsung turun ke warga, aspirasi mau seperti apa. Lalu kita bikin usulan design" Kata Kasie. Perencenaan Pertamanan Dinas Kehutanan DKI Jakarta, Hendrianto di kantornya Dinas Kehutanan Provinsi DKI  pada Medcom.id di Jakarta, Jumat, 30 November 2018.

Bukan hanya dalam perecanaan, Pemprov DKI juga melibatkan warga sekitar dalam pembangunan, pemeliharaan, dan pemanfaatan. Di sini pemerintah mendorong warga untuk lebih aktif. 

"TMB ini kita ingen masyarakat sebagai co-creatornya. Jadi warga dari proses perencanannya, proses pembangunannya, pemeliharaanya, dan pemanfaatan kegiatanya itu melibatkan masyarakat. Dalam pembangunan,nanti ada satu moment masyarakat bergotongroyong. Pemerintah menggabungkan potensi-potensi yang ada di masyarakat, jadi kita sebagai koloboratornya sebenarnya," kata Hendrianto.

Hendriatno menjelaskan apa saja yang dilakukan selama kegiatan FGD berlangsung. Pihak Perencanaan Pertamanan Dinas Kehutanan DKI Jakarta akan menunjukkan progres pada warga terkait THB.

“Kita paparin gambar di meja, warga melihat prosesnya. Ketika pemaparan kita kasi spidol, coret-coret gambarnya, keinginannya apa" tutur dia.

Total FGD yang akan diselenggarakan adalah lima kali untuk satu lokasi dan dana yang dikeluarkan sebesar Rp30 juta rupiah untuk sekali FGD yang terdiri dari 10 lokasi.

Hendrianto mengatakan metode FGD lebih baik daripada menggunakan survei melalui internet yang lebih praktis dan murah. Hal ini karena fokus utama mereka adalah warga pinggiran yang tidak mengerti menggunakan internet. Oleh karena itu, penerapan FGD ini dianggap tepat sasaran.

“Yang mau kami sasar sebenarnya masyarakat pinggiran kan rata-rata ternyata tidak semua orang update terhadap data online. Memang kalau aplikasi mudah untuk yang sekolah tapi tidak semua orang memahami narasi-narasi yang ada di tulisan, perlu bertatap muka," tandas dia.


(SCI)