Polisi Tangkap WN Norwegia

Deny Irwanto    •    Selasa, 14 Nov 2017 13:42 WIB
pemalsuan
Polisi Tangkap WN Norwegia
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono. Foto: Antara/Reno Esnir

Jakarta: Penyidik Polda Metro Jaya melakukan penangkapan terhadap seorang warga negara Norwegia bernama Morten Innhaug. Pelaku diduga melakukan pemalsuan dan penggelapan.
 
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono, mengatakan, pelaku ditangkap di Hotel Aston Marina, Jakarta Utara, pada Selasa 13 November 2017 sekitar pukul 10.00 WIB.
 
"Diduga pelaku secara bersama-sama memalsukan dan menggunakan surat palsu untuk mengambil alih saham perusahaan milik korban (Yanti Sudarno A yang juga eks istri) di PT Bahari Lines Indonesian," kata Argo saat dikonfirmasi Metrotvnews.com, Selasa14 November 2017.
 
Argo menjelaskan, dalam modusnya, Morten juga mengangkat rekannya bernama Gabrila sebagai komisaris di perusahaan tersebut.
 
Untuk tersangka Gabrila, penyidik sudah menangkapnya terlebih dahulu dan sudah menyerahkan berkasnya ke pihak Kejaksaan lantaran sudah dinyatakan lengkap.
 
"Bahwa peralihan tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan korban. Diduga tanda tangan korban dipalsukan dan telah dilabkrim. Hasil pemeriksaan labkrim non identik," pungkas Argo.
 
Yanti sebelumnya juga melaporkan mantan suaminya itu ke unit Pelayanan dan Perlindungan Anak-anak (PPA) Polda Metro Jaya, Senin pada Senin 21 Agutus 2017. Ditemani Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi alias Kak Seto, Yanti dan ketiga anaknya mengaku telah ditelantarkan oleh pelaku.
 
Yanti mengaku sudah tiga tahun tidak dinafkahi, padahal pengadilan agama memutuskan pelaku wajib menafkahi keluarganya Rp20 juta setiap bulan. Namun pelaku tidak menjalankan kewajibannya.
 
Yanti berharap kasus ini segera selesai dan ia bersama tiga anaknya bisa mendapatkan haknya kembali. "Saya berharap adanya keadilan dalam kasus ini. Dia selalu bilang saya tidak berhak untuk rumah dan perusahaan itu. Kami mengungsi untuk sementara sehingga tidak menempati rumah kontrakan," ucapnya.
 
Yanti kini menempati rumah kontrakan setelah ia diusir dari rumahnya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. "Aku sadar semua ini merupakan dampak dari perjuanganku untuk menuntut hak hidup kedua anaknya yang tidak dipenuhi sang ayah. Tapi ketika ancaman itu sudah membahayakan nyawa anak-anak saya, saya perlu bertindak dan melaporkan ke kepolisian," tegas Yanti
 


(FZN)