Mitos Sisifus di Sungai Ciwilung

Media Indonesia    •    Sabtu, 16 Sep 2017 11:24 WIB
sungai ciliwung
Mitos Sisifus di Sungai Ciwilung
Sungai Ciliwung dipenuhi sampah. Foto: Antara/M. Adimaja

Metrotvnews.com, Jakarta: Ceceran sampah yang menumpuk di pinggiran Sungai Ciliwung terlihat jelas dari bantaran sekitar pertemuan Jalan Jatinegara Barat dengan Jalan Otto Iskandardinata, Jakarta Selatan. Wardah, 45, memandangi onggokan sampah-sampah yang sudah bercampur lumpur tersebut.

Sementara itu, di aliran air yang kini ketinggiannya tak seberapa itu, tampak sampah plastik mengambang dengan warna yang sudah pudar.

"Dulu (Sungai Ciliwung) tempat sampah, lalu dibersihkan, dan sekarang jadi tempat sampah lagi. Orang-orang sudah cuek lagi karena dipikir sudah bebas banjir," ujar Wardah, ibu rumah tangga yang tinggal di Kelurahan Bukit Duri.

Seperti Wardah, sejumlah warga lain yang tinggal di sekitar bantaran Sungai Ciliwung mengeluhkan kembalinya onggokan sampah di sana. Namun, mereka pun mengakui itu ulah sebagian warga di wilayah itu.

"Belum lama dikeruk, habis itu penuh sampah lagi. Warga buang sampah di sini," seru Nasar, 50, seorang tukang cukur yang membuka usaha dekat bantaran sungai.

Tidak ada petugas kebersihan yang tampak di sana.

Dinding beton di bantaran bagian tersebut juga sudah selesai terpasang. Seharusnya dinding itu bisa membatasi warga dari aktivitas 'lempar sampah lalu sembunyi tangan'.

Di beberapa bagian bantaran lainnya, seperti di dekat Pasar Jatinegara, dinding beton pembatas bantaran itu masih dipasang para pekerja. Namun, di bagian tersebut sampahnya tidak sebanyak di titik tadi.

Hanya satu-dua sampah yang masih menyangkut di bebatuan.

Menurut Wakil Ketua Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Ali Maulana, sangat sulit untuk mempertahankan kebersihan jika masyarakat tidak sadar akan kebersihan.

"Yang buang (sampah) masih banyak. Bukan hanya orang Jakarta yang punya potensi buang sampah, bisa juga ini kiriman dari Bogor. Kemudian bisa datang dari permukiman melalui saluran kecil sampai ke saluran besar sampai ke Ciliwung," jelas dia kepada Media Indonesia, Kamis 14 September 2017.

Padahal sanksi yang berlaku cukup tegas. Sesuai Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2013, perorangan yang membuang sampah ke sungai akan didenda maksimal Rp500 ribu, sedangkan membuang sampah menggunakan kendaraan khusus akan dikenai denda hingga Rp25 juta dan penyitaan kendaraan.

"Kami sudah perintahkan petugas untuk bekerja sama dengan pihak kelurahan, RT, RW, dan masyarakat untuk aktif melakukan operasi tangkap tangan orang yang membuang sampah di badan sungai," ujar Ali.

Seperti mitos Sisifus yang ditulis Albert Camus 75 tahun lalu, persoalan sampah di Sungai Ciliwung terus berulang. (Yosia Eklesia)


(UWA)

Golkar Tetap Bersiap untuk Pilkada Walau Badai Menghadang

Golkar Tetap Bersiap untuk Pilkada Walau Badai Menghadang

43 minutes Ago

Partai Golkar tengah diterjang badai saat Ketua Umum Setya Novanto ditahan karena tersandung ka…

BERITA LAINNYA