Omzet Tanah Abang tidak Seramai Pengunjung

Media Indonesia    •    Senin, 11 Jun 2018 10:56 WIB
tanah abangRamadan 2018
Omzet Tanah Abang tidak Seramai Pengunjung
Ilustrasi/Suasana Pasar Tanah Abang pada pertengahan Ramadan 2015/MI/Arya Manggala

Jakarta: Terik matahari tidak menyurutkan langkah pengunjung yang umumnya kaum hawa berdesak-desakan di Blok F, Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Suhu udara pun kian meningkat ketika memasuki gang-gang kios di Blok F. Gang sempit selebar dua meter itu hanya mampu menampung dua orang yang berlawanan arah. 

Namun, tak jarang orang memaksa menyalip sehingga berdesak-desakan tidak karuan. "Tolong, tolong, ibu-ibu ya, jangan bawa lagi duitnya ke rumah. Habisin saja di sini!" teriak pedagang mengajak pembeli berbelanja lebih banyak lagi. Kaum hawa yang berada di sekitarnya pun menyambut dengan tertawa kecil.

Pada Jumat, 8 Juni 2018, keramaian Pasar Tanah Abang sudah tampak dari depan Stasiun Tanah Abang. Itu tidak mengherankan, mendekati Lebaran, Pasar Tanah Abang dipadati pengunjung yang tidak hanya dipenuhi warga Jakarta, tetapi juga warga dari luar Jakarta.

Salah satunya Fitri, warga Medan. Ia sudah berada di Pasar Tanah Abang sejak pukul 10.00 WIB. "Ini pertama kali saya belanja di Pasar Tanah Abang. Saya beli baju muslim untuk saya serta ibu dan adik untuk dipakai Lebaran nanti," tutur Fitri sembari duduk kelelahan dengan tas belanjaannya.

Saat itu, bukan hanya pedagang baju yang meraup rezeki, melainkan juga pedagang makanan dan minuman. Kios-kios minuman dan makanan ringan habis 'dihajar' pemburu baju Lebaran. Pengunjung sudah tidak segan-segan makan dan minum di depan orang banyak. Panas terik matahari membuat mereka 'menyerah'.

"Aduh, saya makannya menghadap belakang saja, ah. Malu, biasa puasa. Kalau tidak puasa, rasanya malu," kata seorang ibu seraya menyantap pecel bumbu kacang.



Pedagang bakso di dalam gang Blok F pun mendulang untung. Banyak ibu dengan sisa tenaga yang ada memesan bakso. Maklum, kios bakso itu satu-satunya kios makanan di tengah pertokoan Blok F. "Ya, Allah, cobaan banget ke Tanah Abang sambil puasa," ucap Feny, salah seorang pengunjung yang bertahan dengan puasanya.

Ramainya pengunjung di Pasar Tanah Abang ternyata tidak berbanding lurus dengan omzet penjualan yang diraup para pemilik toko. Mereka mengatakan omzet penjualan tahun ini menurun jika dibandingkan dengan tahun lalu. "Tahun ini omzetnya turun sekitar 40 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu," ungkap Nisa.

Ia juga mengungkapkan alasan turunnya omzet penjualan, salah satunya adalah maraknya toko daring yang membuat orang malas untuk belanja di toko. Belum lagi munculnya pedagang-pedagang di luar gedung pusat grosir Tanah Abang yang menawarkan barang dan harga yang cukup bersaing. Tahun lalu tidak ada pedagang yang berjualan di luar.

Hal senada juga diakui Rafles, 35. Menurut dia, pendapatannya sama saja dengan hari biasa. Ia menduga hal itu bersamaan dengan momentum tahun ajaran baru. "Ya, jadi begini, kelihatannya ramai, kan? Tapi sebenarnya enggak semuanya juga beli. Ada juga rojali (rombongan jarang beli)."  (Yanurisa Ananta/Abdy Azwar/J-2)


(YDH)